Oleh: Yan Megawandi

Tak banyak orang yang mengetahui bahwa ada dua peristiwa penting yang mempertaruhkan maruah bangsa yang pernah dijalani oleh salah seorang diplomat ulung Indonesia, Agus Tarmidzi, pria asal Mentok, Bangka Belitung.

Peristiwa pertama adalah penurunan bendera merah-putih-biru milik Belanda lalu dikibarkannya bendera Merah Putih di Desa Kepi, Mindiptana, dekat Bovendigoel.

Penyerahan bendera Merah Putih dilakukan Agus Tarmidzi kepada salah seorang kepala suku untuk dikibarkan di Irian Barat sebagai tanda bahwa Indonesia dinyatakan sebagai pemenang dalam masalah Irian Barat pada tahun 1962/1963.

Sedangkan peristiwa kedua adalah pengembalian bendera Merah Putih kepada UNAMET (United Nations Mission in East Timor) kemudian bendera PBB dikibarkan sebagai pertanda bahwa Indonesia kalah dalam jajak pendapat di Timor Timur di tahun 1999.

Pada peristiwa pertama di Irian Barat, Agus Tarmidzi baru bertugas di perwakilan RI di Merauke guna menyelesaikan konflik dengan pemerintah Belanda. Usianya baru 31 tahun saat itu, tapi sudah menjalani peran penting sebagai ujung tombak diplomasi Indonesia.

Sedangkan pada peristiwa kedua di Timor Timur sebenarnya ia sudah akan memasuki masa persiapan pensiun yaitu usia 67 tahun.

Baca Juga  Jelang Pemilu 2024, Kemenkumham Babel Minta Kalapas Lakukan Koordinasi Dengan Dukcapil dan KPU

Itu hanyalah salah satu bagian menarik dalam pengalaman hidup Agus Tarmidzi sebagai seorang diplomat Indonesia. Beliau diangkat menjadi pegawai di Departemen Luar Negeri ketika Menteri Luar Negeri RI dijabat oleh Subandrio pada tahun 1959, dan ia mengakhiri kariernya sebagai PNS pada masa menteri luar negeri dijabat oleh seniornya, Ali Alatas, pada masa pemerintahan B.J. Habibie.

Selama menjalani kariernya, Agus berhasil meniti sampai jenjang tertinggi di profesi yang digelutinya itu. Ia sudah pernah menjabat sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) di PBB dan Austria.

Tugas di New York dan Jenewa itu dilakoninya sebelum ia diminta kembali ke Jakarta untuk menduduki jabatan sebagai Direktur Jenderal ASEAN. Sebelumnya Agus juga sudah cukup banyak meniti jabatan baik sebagai direktur maupun sekretaris dirjen.

Sekolah Dua Kali

Seorang anggota tim Indonesia yang dipimpin Agus Tarmidzi untuk ikut dalam Festival Salju tahun 2012 di Sappora Jepang, menuliskan bahwa Opa (panggilannya kepada Pak Agus), sering berbagi cerita tentang masa kecilnya di Bangka. “Yang masih saya ingat, Opa itu ayahnya masih keturunan darah biru. Gelarnya Raden. Sedangkan ibunya adalah seorang keturunan Tionghoa tapi muslim. Dulu beliau sekolahnya dimasukan ke SD Katolik. Tapi setelah pulang sekolah, ia harus mengikuti pelajaran di Madrasah. Opa sempat protes mengapa harus sekolah di dua tempat. Kata ibunya, kalau di sekolah Katolik biar dapat ilmu yang bagus dari Belanda. Tetapi, harus sekolah di madrasah juga agar ilmu agamanya kuat,” begitu tulis teman saya ini di chat WA-nya. Teman saya sangat berduka ketika dikabari bahwa sang Opa sudah berpulang.

Baca Juga  Menari di Atas Banyak Panggung: Kisahku Menjalani Kuliah, Kerja, dan Cinta

Dia kaget menerima kabar bahwa Opa Agus Tarmidzi wafat. “Terakhir beliau WA saya tanggal 26 Februari dan bilang kalau sedang sakit. Setelah itu tak ada kabar lagi”. Menurutnya, sang Opa juga sering cerita. “Saya diceritain masa kecil beliau. Rasanya kalau buat film akan merupakan inspirasi bagi anak-anak sekarang,” tulisnya lagi.

Teman lainnya seorang PNS asal Mentok yang bekerja di Pemprov Bangka Belitung juga menulis di WA. “Oom Agus ini temen baik ayah almarhum, dan sejak saya masih SMP/SMA ayah kadang bercerita tentang Oom Agus yang menjadi duta besar. Sewaktu ayah wafat di Jakarta, beliau takziah ke rumah duka (rumah kakaknya yang di Bintaro), dan ngaji sambil berdoa di samping jenazah ayah hingga diberangkatkan ke Soetta pukul tiga dini hari. Saudara-saudara beliau yang sembilan orang juga datang menjenguk ketika paman kami, Norman Rani, sakit. Cuma memang, Oom Agus, di keluarga dipanggil Mang Gus, yang berhalangan hadir. Almarhum memang sosok yang santun, lembut, dan terkadang suka menyapa di medsos. Tapi setelah Covid, aktifitas beliau banyak berkurang. Lalu tidak sama sekali,” tulisnya.

Baca Juga  Bujoi, Teladan Urang Kampong

Jadi Diplomat Karena Guru

Adalah Ir. Van Diemen Delel – seorang guru di SMP 1 Pangkalpinang, waktu itu MS (Midelbare School) – yang menginspirasi Agus Tarmidzi muda untuk menyiapkan diri berkarier sebagai diplomat. Dalam sebuah kesempatan, guru ilmu alam berkebangsaan Belanda itu menanyakan apa cita-cita Agus nanti.

“Ingin mengabdi untuk ilmu pengetahuan di bidang luar negeri” jawabnya. Mendengar hal itu, ibu gurunya kemudian mengomentari. “Kalau begitu kamu harus menjadi diplomat”. Namun menurut gurunya, karier itu cukup berat.