Pendidikan Ajaran Rasulullah
Oleh: Rega Afriana, S.Pd
Berbicara tentang pendidikan Islam, maka kita akan membicarakan tentang sebuah proses yang dilakukan untuk menciptakan manusia-manusia yang seutuhnya; yaitu beriman dan bertakwa kepada Tuhan serta mampu mewujudkan eksistensinya sebagai khalifah Allah di muka bumi, yang berdasarkan kepada ajaran Al-Qur’an dan sunah.
Prof. H. Muhamad Daud Ali, S.H dalam bukunya pendidikan Agama Islam berpendapat bahwa pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan oleh manusia untuk mengembangkan potensi manusia lain atau memindahkan nilai-nilai yang dimilikinya kepada orang lain dalam masyarakat.
Proses pemindahan nilai itu dapat dilakukan dengan berbagai cara, di antaranya adalah, pertama melalui pengajaran yaitu proses pemindahan nilai berupa (Ilmu) pengetahuan dari seorang guru kepada murid-muridnya atau dari orang tua kepada sang anak, dan dari suatu generasi kegenerasi berikutnya.
Kedua melalui pelatihan yang dilaksanakan dengan jalan membiasakan anak melakukan pekerjaan tertentu untuk memperoleh keterampilan mengerjakan pekerjaan tersebut.
Ketiga melalui indoktrinasi agar anak dapat meniru atau mengikuti apa saja yang diajarkan orang lain tanpa mengijinkan si penerima tersebut mempertanyakan nilai-nilai yang diajarkan.
Sebagai seorang muslim, orang tua, atau guru, Nabi Muhammad saw tentunya merupakan contoh yang sempurna. Dalam mendidik kaum Muslimin, beliau menggunakan berbagai metode yang efektif. Dengan begitu, para sahabat dapat memahami dan juga mengamalkan ilmu-ilmu agama yang disampaikan beliau secara baik.
Salah satu metode pendidikan ala Rasulullah saw ialah bercerita atau memberikan gambaran ilustratif. Sebagai contoh, cerita Nabi saw saat hendak mengajarkan tentang keutamaan tobat.
Beliau mengilustrasikan seperti seorang laki-laki yang kehilangan unta dan bekal di tengah gurun. Setelah sekian lama mencari-cari, pengembara itu menjadi putus asa.
Metode lainnya ialah menjawab pertanyaan yang diajukan para sahabat. Begitu pula sebaliknya. Nabi Muhammad saw kadang kala mengajukan pertanyaan secara retoris kepada umatnya. Dengan teknik itu, beliau menstimulus keingintahuan dan perhatian mereka.
Cara tersebut pernah dialami Mu’adz bin Jabal. Saat sedang menempuh perjalanan, Rasulullah saw bertanya kepadanya, “Maukah engkau aku beri tahukan tentang pokok, tiang, dan puncak amal? Mu’adz pun mengiyakan. Lantas, beliau meneruskan penjelasannya, Pokok amal adalah Islam. Tiang-tiangnya adalah salat. Puncaknya adalah jihad di jalan Allah.”
Selain itu, Rasulullah juga punya cara dalam mendidik anak, antara lain yaitu:
1. Kenalkan Anak kepada Allah Sedini Mungkin
Hal pertama yang harus dilakukan orangtua kepada anaknya adalah mengenalkan anak kepada Allah sedini mungkin. Ini penting dilakukan, karena anak harus tahu siapa yang menciptakannya. Selain itu, cara ini dilakukan sebagai langkah pembentukan akidah terhadap anak.
2. Berikan Pendidikan Agama dan Akhlak
Setelah mengenalkan anak terkait siapa penciptanya, hal selanjutnya yang dilakukan adalah mengajari anak pendidikan agama dan akhlak. Tentang hal ini, Rasulullah saw, bersabda: “Tidak ada pemberian seorang ayah untuk anaknya yang lebih utama dari pada (pendidikan) tata krama yang baik.” (HR. Imam At-Tirmidzi – Imam Al-Hakim).
Hadis tersebut menjelaskan bahwa pendidikan agama dan akhlak itu sangat penting. Ketika anak sudah diajari penerapan akhlak yang baik, maka itu akan tertanam dan menjadi kebiasaan hingga ia dewasa.
3. Mengajarkan Cara Memilih Teman yang Baik
Suatu saat anak akan tumbuh dan menjadi dewasa, maka lingkungannya pun akan berubah. Jika anak tumbuh di lingkungan yang baik, maka akan tumbuh dengan baik. Percaya atau tidak, hal itu benar adanya.
