Setelah selesai, Asnadi mengaku dibawa ke Polsek Mentok dan dipaksa menandatangani surat perjanjian damai, kemudian baru diantar pulang, pada Sabtu (30/3/2024) dinihari.

“Dibawa ke polsek, mata di buka, orang ramai lebih dari 10 orang, badan sudah benar-benar lemas. Yang seragam satu orang. Yang lain baju biasa. Sampai polsek, nggak nerima lagi, karena sudah babak belur, karena mungkin takut saya mati di sana. Terus dibuat surat perjanjian damai, diancam saya. Sama tentara tadi,” katanya.

Terpisah, Selvi yang merupakan adik dari Asnadi kaget bukan kepalang melihat kakaknya pulang dengan keadaan babak belur.

Menurut Selvi seorang pria yang mengaku bernama AL, menggunakan seragam tentara itu, sudah sejak siang mencari kakaknya.

Baca Juga  Bawaslu Gelar Ngabuburit Pengawasan, Perkuat Strategi Pengawasan Partisipatif di Bulan Ramadan

“Tentara itu nyari rumah Nadi, terus saya suruh adik saya manggil Nadi, jadi karena merasa nggak salah, disamperin tentara itu tadi. Motor ini ayuk itu melihat di tinggal di sana. Setelah itu nggak tau Nadi kemana, diantar jam 1 malam,” ucap Selvi.

“Terus saya bilang, kenapa muka abang lah macam ini, Ayuk saya telpon terus nanya siapa yang antar, saya bilang AL namanya,” katanya.

Setelah itu, pihak keluarga korban langsung membawa Asnadi untuk berobat dan melakukan visum di Rumah Sakit Umum Daerah, yang rencananya akan dilaporkan ke Polres Bangka Barat.

“Kami tetap mau lanjut ke jalur hukum. Sampai orang itu bertanggung jawab lah. Ini kita berobat pakai biaya pribadi. Kalau damai atau nggak, kami serahkan ke abang,” ucapnya.

Baca Juga  PWI Babel Kawal Orasi Akbar di Parit Tiga, Rudi: Laporkan jika Ada Oknum Wartawan Memeras

Hingga berita ini diturunkan, wartawan Timelines.id masih berupaya melakukan konfirmasi kepada sejumlah pihak yang diduga terlibat dalam insiden penganiayaan berat itu.