Semua berangkat dengan pakaian rapi dan berseragam. Semua pasukan diatur dengan masing-masing kelompok dengan mengikuti barisan masing-masing. Setiap pasukan berkuda berbaris dengan kelompok berkuda lainnya. Pasukan berkendara juga berbaris dengan kelompok berkendara lainnya,

وَمِنْ عَادَاتِهِ فِي يَوْمِ الْعِيْدِ أَن يَخْرُجَ فِي الْحَرسِ، اَلَّذِي يُقَدَّرُ بِثَلَاثِيْنَ أَلْفٍ مِنَ الشَّبَابِ الشَّجعَانِ الْمُوَحِّدِي اللِّبَاسِ، تَتَقَدَّمُهُمُ السَّيَّارَاتُ وَالْعرَبَاتُ، وَيُنْشِدُوْنَ لَهُ السَّلَامَ الْمُلْكِي، وَيَعْتَزُّ كُلُّ الْمُسْلِمِيْنَ بِهِ

Artinya, “Dan termasuk kebiasaannya (Sultan Abdul Hamid) pada hari raya adalah ia keluar bersama pengawal kerajaan, disertai oleh tiga puluh ribu pemuda pemberani yang berseragam pakaiannya. Di depan mereka ada banyak tentara berkendara dan berkuda, mereka menyanyikan lagu-lagu kepadanya (raja) dan ucapan salam khas kerajaan. Dengan kebiasaan tersebut umat Islam menjadi mulia (di sisi pemeluk agama lain).” (Habib Ahmad asy-Syatiri, 177).

Baca Juga  Melepas Tradisi Lama: Upaya Mengembangkan Potensi Siswa di Era Modern Tanpa Ujian Praktik Nikah

Terdapat banyak pelajaran yang bisa kita raih dari kisah ini, selain untuk menampakkan kekompakan dan soliditas umat Islam, juga bisa kita lihat bagaimana upaya raja-raja terdahulu dalam mempertahankan persatuan dan soliditas kaum muslimin.

Mereka berupaya dengan serius agar umat Islam tetap berada di jalur yang sama, yaitu persatuan.

Hal itu tidak lain selain karena persatuan ajaran yang sangat mulia dalam Islam. Persatuan merupakan ruh kehidupan, dan menjadi pilar kekuatan dalam hidup beragama, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Persatuan juga menjadi pokok utama dan asas yang sangat penting untuk mencapai sebuah hasil yang sempurna. Karenanya, harus ada upaya serius dalam membangun persatuan umat Islam. Berkaitan dengan hal ini, Allah swt berfirman dalam Al-Qur’an:

Baca Juga  Pentingnya Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar untuk Membangun Pemahaman Sosial Sejak Dini

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا

Artinya, “Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara.” (QS Ali ‘Imran [3]: 103).

Idulfitri menandakan berakhirnya waktu puasa Ramadaan dan sering diartikan juga sebagai hari kemenangan. Makna spiritual yang terdapat di dalamnya selain refleksi dan kegembiraan, Idulfitri juga sebagai waktu untuk amal, yang dikenal sebagai Zakat al-Fitr.

Idulfitri dimaksudkan sebagai waktu sukacita dan penuh berkah bagi seluruh umat Muslim dan waktu untuk membagikan harta kekayaan seseorang kepada mereka yang tidak mampu agar turut berbahagia di hari raya.

Baca Juga  Hanya Pemimpin Islam, Periayah Rakyat Sejati

Demikian sedikit kisah pemimpin Islam terdahulu dalam memperingati hari raya. Semoga bermanfaat dan menjadikan hari raya kita sebagai hari yang berkah, Amin. Wallahu a’lam

Tri Windy Astuti, S.T, Fasilitator SDIT Alam Cahaya, Toboali, Bangka Selatan