RAMADHAN, TIMELINES.ID– Ibadah puasa memiliki multi makna yang terkandung di dalamnya. Tidak ada salahnya jika kita sedikit merenungi dimensi beragam yang terkandung dalam ibadah yang konon hanya dikhususkan untuk umat Nabi Muhammad Saw ini.

Sedemikian tinggi nilai dan martabat puasa Ramadhan ini, sehingga hanya orang-orang tertentu saja yang berpeluang mendulang kebaikan di dalamnya.

Waktu pelaksanaan puasa berlangsung sebulan penuh, artinya detik demi detik, menit-demi-menit, jam-demi-jam, hari-demi-hari hingga sebulan penuh, kesempatan emas ini datang kepada orang-orang yang diseru oleh Tuhan sebagai Mukminin. Seruan ini berisikan perintah untuk berpuasa selama sebulan penuh. Perintah yang datang dari Tuhan Yang Maha Bijak dan Maha Hakim.

Dalam tarekat, puasa adalah upaya mengendalikan diri kita secara lahiriah dan batiniah. Secara lahiriah, kita kita mengendalikan diri dengan mempuasakan seluruh panca indera kita. Dalam ilmu kebatinan , kita harus melakukan semedi, kita harus menutup tujuh pintu masuknya setan. Dengan cara itu, kita dapat masuk ke dalam alam kesucian

Baca Juga  Membaca Ulang Kisah Nabi Yusuf (Bagian 8): Ketika Hasad Berubah Jadi Rencana

Puasa Membersihkan jiwa

Telah banyak riset dan penelitian yang dilakukan ihwal manfaat puasa bagi manusia. Setiap amal-ibadah di samping ia bermuatan eksoterik (ritual), ia juga sarat dengan muatan esoterik (spritual). Baik dari dimensi spiritualnya maupun materialnya. Berpuasa dengan memperhatikan adab-adabnya dan menjalankan yang disunahkan, dapat berdaya-guna secara spritual, sosial, moral dan medikal.

Dari segi moral puasa begitu mendominasi. Puasa dalam wujud manusia memiliki beragam dimensi dan dampak yang begitu banyak, baik dari sisi materi maupun maknawi (spiritual), dan yang paling penting dari semua dimensi yang ada adalah dimensi moral dan pendidikannya.

Seseorang yang melakukan puasa, selain harus merasakan kelaparan dan kehausan dalam wujudnya, ia juga harus menutup matanya dari kelezatan dan kenikmatan biologis, serta membuktikan dengan amal bahwa ia tidaklah seperti hewan yang terkungkung di dalam kandang dan rerumputan. Karena ia mampu menahan diri dari godaan nafsu dan lebih dominan dari hawa nafsu serta syahwatnya.

Baca Juga  Awas Lebaran Buat Kamu Gendut, Kenali Kalori Kue yang Kamu Makan

Dalam segi Spiritual, kalau puasa dilihat dari segi aspek spiritual (Batiniah) begitu kompleks. Karena menurut imam al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumiddin yang menjelaskan tentang puasa khusus dari khusus (صوم خصوص الخصوص) bahwa salah satu dalam 6 perkara yaitu membahas tentang melarang makan ketika berbuka puasa, karena sejatinya puasa adalah menghancurkan dan merusak hawa nafsu, maka seyogyanya jangan memperbanyak makanan-minuman ketika berbuka sekalipun dengan makanan yang halal karena itu tidak ada maknanya/faidahnya.

Bagaimana bisa dikatakan puasa dalam rangka merusak dan menghancurkan hawa nafsu kalau dari pagi sampai menjelang buka orang sibuk mempersiapkan bahan makanan untuk dimakan ketika buka puasa, sebab ketika mencari ke sana-sini, mengolah sendiri, membeli dari yang murah sampai yang mahal dengan hidangan dan warna-warna (jenis-jenis) makanan yang mana makanan tersebut jarang bahkan langka kita dapatkan di selain bulan Ramadhan tapi ketika datang bulan Ramadhan semua makanan ada di depan kita yang siap disantap.

Baca Juga  Eddy Supriadi: H-7 Idul Fitri, Perusahaan di Basel Wajib Bayar THR

Itu menunjukkan bahwa orang tersebut telah gagal merusak dan menghancurkan hawa nafsunya sebelum berbuka dia telah dikuasai oleh nafsu dengan beranggapan supaya berbuka dengan berbagai macam makanan yang lezat.

Apabila perut ditolak daripada makanan, dari pagi hari sampai sorenya, sehingga perut itu bergolak keinginannya dan bertambah kuat kegemarannya, kemudian disuguhkan dengan makanan yang lazat-lazat dan kenyang, niscaya bertambahlah kelazatan dan berlipatgandalah kekuatannya serta membangkitlah dari nafsu syahwat itu, apa yang diharapkan tadinya tenang, jikalau dibiarkan di atas kebiasaannya.