Teringat Duka Silam
Hari itu, Nur dengan cepat berlari ke kelasnya untuk menaruh buku juga hp, kado pemberian istimewa dari sekolah nya itu di tasnya. Setelah menaruh tas, Nur pun mulai berlari kembali menuju ruangan laboratorium, untuk membersihkan apa yang disuruh oleh gurunya itu.
Setelah membereskan semuanya, Nur kembali ke kelas untuk mengambil buku mata pelajaran juga hp-nya itu. Namun, tiba-tiba dia mulai panik karena benda pemberian dari sekolahnya itu hilang.
“Aduh,di mana hp kado pemberian sekolahku? Mengapa tidak ada di tasku,
? Padahal tadi, pas aku tinggal, barang itu kuletakkan di tas dengan benar, lalu mengapa sekarang tidak ada?” ucap Nur gelisah sambil mencari hp pemberian sekolahnya itu.
Nur terus mencari di sekeliling kelasnya. Namun, masih saja tidak ketemu. Dia juga sudah beberapa kali bolak balik dari kelas ke lab, kurang lebih 6 kali, hasilnya masih juga nihil. Tidak ada! Saking paniknya, Nur pergi ke ruangan kepsek untuk menceritakan segalanya apa yang terjadi.
Tiba di ruangan, Nur menceritakan kejadiannya dengan muka panik penuh kesedihan. Hingga sore hari, pencarian tidak menunjukkan hasil, meski para guru sudah dilibatkan, serta mengecek di tas siswa satu per satu.
Dengan perasaan sedih mendalam dan perasaan hancur, karena kado terindah yang diberikan itu nihil tidak ketemu. Nur pulang ke rumah dengan muka yang tidak menampakkan senyuman sama sekali. Dia lalu menceritakan segalanya kepada Ayah dan Ibu.
Kedua orang tuanya tidak bisa berkata apa -apa. Mereka terkejut mendengar segalanya mereka hanya bisa menenangkan Nur agar tidak larut dalam kesedihan. Walaupun kedua orangtuanya sudah menenangkannya, Nur tetap saja larut dalam kesedihan.
Dia terus saja bersedih di kamarnya, tidak mau berbicara atau melakukan apa-apa karena kejadian di sekolah tersebut.
“Ya Allah, mengapa ini terjadi padaku? apakah aku tidak pantas untuk bahagia?” asunya pada Allah swt.
Lambat laun, dia berusaha mengikhlaskan benda miliknya itu dan mencoba sedikit tenang lalu tersenyum kepada semua orang. Berbulan- bulan lamanya, dia sudah bisa tersenyum bahagia kembali, mengikhlaskan segalanya.
Namun, di hari minggu dia kembali mengenang kejadian itu lagi di tepi danau, tempat di mana dia biasanya menceritakan segala keluh kesah hidupnya.
“Aaa …, aku rindu akan benda pemberian sekolahku!” teriknya dengan keras di danau itu tanpa ada yang mendengarkan.
“Di mana ia sekarang? bersama siapa? Apakah ia sudah dijual atau bahkan tidak? aku ingin sekali bisa memeluknya kembali. Apakah ia bisa kembali kepadaku?” ucapnya lagi sambil bersedih.
“Kenapa orang itu begitu tega kepadaku? Apa salahku kepadanya? Mengapa dia tidak punya hati nurani, begitu jahat, tega merampas hadiah terindah yang aku punya. Aku ini hanyalah orang biasa yang tak punya apa-apa, begitu teganya dia padak!” lanjutnya berucap seperti itu mengenang segalanya.
Di sungai itu, tempatnya berkeluh kesah, ditemani hujan yang begitu deras petir bergemuruh keras dia teringat segalanya, lalu melampiaskan kesedihannya bersama hujan deras. Nur hanya berharap, orang yang begitu tega, keji kepadanya bisa mendapatkan hidayah, menyadari segalanya juga segara bertaubat.
Tamat.
Simpang Rimba 8 April 2024.
