Karya: Fhyona Vlorensya, Pelajar SMPN 1 Toboali, Bangka Selatan

CERPEN, di daerah pesisir pantai hiduplah seorang anak yang bernama Hannala. Ia tinggal dengan sang ayah hidupnya sebatang kara.

Ayahnya adalah seorang nelayan berburu ikan di lautan. Hannala membantu ayahnya berjualan ikan dipasar untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, banyak ikan yang diperoleh ayah setiap harinya.

Namun, berselang lamanya waktu, lautan tampak terlihat mustahil, air tak sejernih kemarin dulu, ikan membeku tergeletak tak bernyawa.

Nelayan sudah mendayung perahunya ke tengah lautan, siapakah yang menimpa ini semua?

Warga gelisah, di mana sumber yang akan mereka cari jika ikan terus berkurang, tak bisa ia bayangkan, betapa gundah hatinya itu melihat semua ini terjadi, di mana akan ia cari sesuap nasi jika lautan ini hancur tak ada sisanya, sesak menyelimutinya, tak sebait pun yang mampu Ia jelaskan dalam ucapannya.

Katanya lubang perbatasan itu akan ditutup,” ucap seorang warga sekitar. Sontak Hanna kebingungan muncul dalam benaknya apa yang sedang terjadi.

Hanna mendengar perbincangan warga sekitar tentang lubang perbatasan sungai dengan lautan itu, warga sedang merencanakan sesuatu, lubang perbatasan itu akan di tutup dengan dinding, agar ombak tidak menerobos sampah ke lautan, gelombang sampah itu terlihat tidak masuk akal, keputusan warga sudah tepat.

Pada saat terjadi penutupan, warga pesisir beramai-ramai bergotong royong membersihkan lautan dari sampah. Mulai dari mengambil sampah dengan menjaring, serta banyak anak-anak yang mandi di lautan pada saat bergotong royong.

Suasana itu membuat alam sekitar berdamai dengan seisinya, dan laut kembali bersih, warga membudidayakan ikan kembali, menjernihkan air serta menggunakan air laut untuk mandi.

Permasalahan sudah terpecahkan, kini matahari telah tertelan oleh pembatas tengah lautan, warga pesisir pun bangkit dari air dan saling berpamitan pulang ke rumah, Hanna yang mendengar azan berkumandang segera ia pulang ke rumahnya.

Namun pada saat di tengah perjalanan, ia termenung dan melihat aliran sungai mengalir tetapi tertutupi oleh dinding, di dalam benaknya berkata apakah semua ini akan berhasil.

Lambaian cahaya matahari sudah menyinari wajah yang menandakan hari sudah pagi awan sudah putih dan bulan pun bangun dan kembali dari tidurnya, matahari menyambut pagi dengan riang, Hanala sudah berpakaian rapi dan wangi dibalut dengan rambut yang basah usai mandi.

Hannala pergi ke pesisir laut berharap keadaan ini telah selesai dan berakhir. Hannala melihat lautan yang indah tak ada lagi ikan terpapar mati serta sampah yang mengapung terbawa gelombang, kini suasana penduduk seperti biasanya.

Keseharian yang mereka lalui adalah mencari ikan ada yang mencari kerang-kerangan untuk makan serta untuk diperjual belikan.

Begitupun Hannala, ia membantu sang ayah berjualan ikan di pagi itu ia memandangi para penjual serta pembeli di pasar tempat ia menjual ikannya.

Betapa bahagianya ia kini semua kembali seperti semula dan baik-baik saja.

Ada banyak ikan yang dijual sang ayah hari ini. Seperti biasa ikan terjual dan terdapat sisa bekal pulang.

Namun berbeda kali ini ada anak kota yang ingin memborong semua ikan milik ayah. Betapa senang hatinya ikan terjual habis dengan waktu yang cepat.

Pemuda itu memiliki restoran.

Ia membeli ikan ini untuk bahan pakan restorannya itu. Ia ingin ikannya diantarkan ke kota, pemuda tersebut memberikan kartu alamat restorannya.

Tak kunjung lama Hanalla pun pulang dan memberikan kabar baik kepada keluarganya.

Betapa riang dan girangnya, ayah ibunya yang melihat hanala pulang lebih awal dari menjualnya sontak terkejut dan terheran-heran.

“Tumben sekali nak kau pulang lebih awal hari ini apa ada masalah?”  Tanya Ibunya.

Hanala yang mendengar pertanyaan dari sang ibu ia pun menghampiri ayah dan ibunya bersalaman sembari tersenyum

“Ibu apa kau tak melihat kebahagiaan diraut wajahku tentu saja ini kabar baik bukanlah sebuah masalah,” Jawab hannala.

Hanala pun menceritakan apa yang terjadi.

Betapa bahagianya ibu dan ayahnya telah mendengar kabar itu ayahnya bergegas menyiapkan mobil dan hannala menyiapkan ikan yang akan dibawa.

Setelah itu hanalah izin berpamitan kepada ibu dan ayahnya, sang ibu memberi pesan, berhati-hatilah di kota, kota bukanlah tempat seperti kampung halaman di sini.

Hanala mengangguk dan pergi berpamitan. Di perjalanan ia melihat hutan gunung serta bukit daratan tinggi kendaraan yang lalu dan lain-lainnya, suasana di perkotaan menurutnya akan sangat indah.

Setelah sekian lamanya perjalanan hannala sampai di tempat yang ia tuju.

Betapa kagum dirinya gedung-gedung menjulang tinggi keramaian di pinggir jalan serta restoran yang megah dan indah, ia mengira ini adalah surga.

Ia masuk ke dalam restoran tersebut isinya dipenuhi dengan pegawai berpakaian rapi dan sopan.

Saat ia asyik melihat tiba-tiba pemuda kota itu berada di depannya, Hannala terkejut.

Pemuda itu tertawa.

“Hai saya Leo saya bos muda pemilik restoran ini apakah kau perempuan yang ingin mengantarkan ikan kemarilah taruhlah ikan itu di dapur,” ucap Leo.

Mendengar ucapan Leo, Hanala langsung sigap mengambil ikan dengan dibantu para pelayan lainnya ke dapur Hanala memasuki dapur dan begitu banyak perabotan modern di situ ada kompor listrik oven dan sebagainya.

Ia benar-benar kagum melihat semua itu, hingga pandangannya tak fokus ke para pelayan yang mengantarkan ikan, Leo menghampirinya dan menepuk pundaknya.

“Apakah kau baru melihat ini semua, apa kau baru pertama kali ke kota? Bukankah ini indah? Kemarilah akan kutunjukan isi ruangan restaurant ini,” ucap Leo.

“Terima kasih banyak, ” jawab Hannala.

Hannala dan Leo pun berjalan mengelilingi restauran itu. Sampai suatu ketika Hannala melihat para pelayan membuang sisa makanan dan sampah ke dalam sebuah sungai kecil.

Ia lalu menghampiri para pelayan tersebut dan bertanya ke mana asal sungai ini melaju, pelayan yang mendengar pertanyaan Hannala langsung menjawab.

“Nona sampah ini akan melaju ke lautan,” jawab salah satu pelayan.

Hannala terkejut dan menghalanginya ia sekarang tersadar alasan mengapa ikan banyak mati.

Sungguh ia kecewa dengan apa yang ia lihat, apakah tak terpikir oleh benak manusia yang lain tentang alam sekitar mereka.

Setidaknya mereka harus mengerti kehidupan yang mereka jalani dan tau sebabnya.

“Hei, jika kau sudah tau sampah itu menuju ke lautan mengapa kau masih membuangnya. Apakah kau tak memikirkan ikan di lautan yang memakan semua sampah itu, pakailah perasaanmu bagaimana para nelayan mencari ikan jika ikan telah menghirup dan memakan sampah ini hingga mati,” Hannala memberontak dan tak tahan menahan amarah.

Para pelayan pun menunduk malu mendengar apa yang diucapkan Hannala.

Ia berpikir benar saja yang Hannala katakan, jika ikan memakan semua sampah mereka akan mati,  tetapi para pelayan bingung di apakan sampah sebanyak ini.

Leo yang sedang berada disitu leo tampak panik melihat Hannala yang terbawa emosi ia pun menenangkan hannala.

Ia menyuruh hannala untuk duduk dan menenangkan diri, menyelesaikan semuanya baik-baik.

“Tenanglah Nona, bisakah kita menyelesaikan semua ini dengan seksama tanpa perdebatan kupikir ini bisa diatasi,” jawab Leo.

Hannala pun berusaha menenangkan dirinya, dan mencari solusi untuk semua ini, ”Jika tak ada cara untuk membuang ke sungai, pasti ada cara lain untuk menyingkirkannya bukan?” Leo memberi saran atas apa yang dipikirkannya.

“Bagaimana jika sampahnya dibakar,” tanya Leo.

Hannala menggeleng kepala itu bukan ide bagus. Sampah sebanyak ini jika dibakar pasti akan menyebabkan kebakaran, perlu di waspadai, jangan sampai terjadi.

Mereka masih memikirkan solusi yang lain.

Tak lama kemudian Hannala menemukan ide yang bagus, lalu menyampaikan kepada Leo dan pelayan lainnya.