Ombak yang Tak Bersalah
“Aku pikir jika tidak ingin terjadi kebakaran, apa sebaiknya sampah itu kita singkirkan dengan cara dikuburkan di dalam tanah. zdampah pasti akan hancur berselang lamanya waktu di dalam tanah, dan juga berguna untuk tumbuhan sebagai serat pupuk sampah. Namun itu hanya untuk sampah yang basah organik, kaleng kertas dan botol tak akan hancur. Atau sebaiknya kita mengajak para anak anak bangsa medaur ulang sampah anorganik tersebut, generasi muda dalam kebersihan itu perlu. Dan kita juga harus mengajarkan hal positif kepada anak bangsa, dengan mengajarkan seni mendaur ulang membuat kerajinan. Kerajinan itu nantinya akan banyak fungsinya, sebagai untuk keindahan bukankah bisa diperjual belikan. Lagipula kerajinan bisa berupa banyak hal ada dari kerajinan nenek moyang, adat istiadat seperti topeng dan ondel ondel, ” jawab Hannala.
Mendengar ide Hannala, Leo dan para pelayan sangat setuju apalagi idenya pun memberikan kesan apa yang akan terjadi setelah itu mereka sangat puas mendengarnya.
Leo dan Hannala pun mencari cara bagaimana agar semua orang sekitar tahu dan mengerti mestinya harus diumumkan dan menarik perhatian agar mereka mau melakukannya.
“Bagaimana jika kita mengajak anak panti asuhan untuk berkomitmen dan berkarya melalui sampah dan membuat kerajinan. Dengan begitu kita juga bisa mengajak para penduduk lain dengan membuat poster berisikan ayo peduli lingkungan alam ini dan menempelnya di sekitar tempat umum serta daerah sungai,” ucap leo.
Hannala mengangguk itu ide yang bagus menurutnya ia menyetujui ide Leo tersebut dan menyusun rencana.
Hanna dan Leo pergi kebelakang restauran. Mereka menanam sampah basah ke dalam tanah dekat tumbuhan tumbuh dan juga mereka mengumpulkan sampah berupa kaleng kardus kertas serta botol.
Mereka membawa sampah itu kepanti asuhan.
Di panti asuhan terlihat ramai sekali anak-anak yang bermain dan menghapalkan ayat dan doa.
Mereka bersuka ria bersenang senang bersama, melihat suasana di panti itu Hannala teringat dengan masa kecilnya, bermain bersama dengan teman masa kecilnya tanpa mengenal perdebatan serta keributan dunia.
Leo dan Hannala pun masuk ke panti asuhan itu, melihat kedatangan Leo dan hannala pemilik panti menyambut mereka dengan sopan.
Dia menanyakan apa yang dibutuhkan mereka sehingga datang kemari, Hannala pun menceritakan tujuan nya ke sini. Ia ingin anak-anak di sini membantu untuk menyadarkan penduduk betapa pentingnya alam ini.
Pemilik panti menyetujuinya dan ia akan merasa senang jika anak-anak diajarkan menjadi lebih mengerti tentang alam sekitar, mereka pun memanggil anak panti untuk berkumpul dan memperkenalkan diri satu sama lain.
Hannala sangat begitu bahagia, benar pesan ibu, kota tak sama seperti kampung halaman tetapi kebersamaannya tetap terikat.
Mereka menghargai satu sama lain, canda tawa sedih derita mereka lalui bersama, tak ada yang saling menyakiti dan meninggalkan, ibarat kan ribuan bintang yang tak lepas dari kejauhan bulan.
Ya itu yang dipikiran Hannala untuk mendeskripsikan panti asuhan di kota.
Hannala dan anak perempuan asik membuat boneka menggunakan kardus sedangkan Leo dan anak lelaki asik mmebuat mobil mobilan dari kaleng kalengan atau topeng plastik.
Mereka bersenang senang begitupun Hannala, mungkin ada rasa kecewa yang ia alami ketika mengunjungi kota, namun semua itu tergantikan ketika mendengar anak-anak tertawa bercanda.
Hannala ingin apa yang ia harapkan tergapai, dan usahanya berhasil.
Tak lama kemudian mereka berhasil membuat kerajinan itu.
Mereka bermain menggunakan kerajinan yang awalnya sampah.
Hannala mengambil gambar moment itu selain untuk foto poster Hannala ingin menunjukan kepada ayah dan ibu di kampung.
Hannala ingin ibu dan ayah tahu mengenai kondisi di kota.
Tugas Hannala dan Leo sudah beres.
Mereka hanya tinggal membuat poster dan menempelnya di tempat umum, hari-hari yang menyenangkan bersama Leo selama di kota.
Jika tidak ada Leo tak mungkin hannala menemukan penyebab ini semua dan tak ditemukan bahagia bersama anak-anak tadi.
Leo adalah seseorang dari doa untuk kebaikan alam ini. Ia begitu pintar memahami situasi dan sigap menolong.
Leo adalah sosok pembantu untuk Hannala menyelesaikan apapun.
Matahari hampir tenggelam dan langit sudah mulai gelap, namun tugas belum sepenuhnya selesai.
Hannala meminta izin dan menelpon sang ibu untuk menginap semalam.
Ibunya mengiyakan saja dan selalu memberi pesan untuk tetap berhati hati.
Hannala pun mendengar pesan yang ibunya katakan setiap apapun itu.
Keesokan paginya Hannala bangun, ia menginap di rumah neneknya Leo.
Ia hidup seorang diri di rumah itu, Leo pun meminta untuk menginap di rumah neneknya dan menjaga neneknya. Setelah itu Hannala izin pamit kepada nenek untuk melanjutkan tugas mereka.
Leo dan hannala pergi ketempat umum menempelkan sebuah poster yang dibuat.
Mereka berdoa semoga cara ini berhasil, setelah selesai menempelkan Hannala mengajak Leo mengantarnya pulang ke kampung halamannya.
Hannala dan Leo pun pulang ke tempat yang Hannala rindukan, yaitu kampungnya.
Ia berlari mencari ibunya dan memeluknya.
Hannala menceritakan apa yang ia alami di kota dan tak lupa memperkenalkan Leo kepada ibunya.
“Ibu, ini Leo yang membeli ikan kita kemarin, leo Lah yang membantuku selama di kota,” ucap Hannala.
Leo yang mendengar ucapan Hannala pun tersenyum lalu bersaliman kepada ibu Hannala, ibu nya membalas senyuman.
ia berterima kasih telah membeli ikan serta berkunjung ke kampung pesisir ini, Leo tak meng inginkan kata terima kasih justru menurutnya dirinya lah yang berterima kasih.
Mereka pun asik mengobrol, Hannala menyadari bahwa tidak ada sang ayah di rumah.
Ia menanyakan kepada ibunya kemana ayah.
“Ayah pergi ke perbatasan sungai dan laut, katanya ada beberapa pipa warga tersumbat akibat sampah di sungai,” jawab sang ibu.
Hannala dan Leo pun saling menatap satu sama lain mereka tau apa yang ingin mereka lakukan.
Mereka lalu berpamitan lagi untuk pergi ke tempat itu dan menyelesaikannya, setelah sampai di tempat, warga beramai ramai di sana, tetapi hanya berdiam tak bersuara. Hannala sontak terkejut melihat ribuan sampah di balik pembatas tembok yang warga buat.
Hannala sudah berpikir dari awal bahwa ini tak akan berhasil, Hannala meminta warga sekitar untuk merobohkan dinding itu.
“Biarkan alir mengalir, jika ada sampah kita harus membuangnya bukan malah membiarkannya. Apa kalian tak terpikirkan sangat tidak masuk akal jika kalian mengira semua akibat ombak. Coba lihat sekarang sampah penuh di perbatasan sungai ini dan ombak seperti biasa berdebur, apakah kalian masih menyalahkan ombak? Permasalahan semua ini adalah sampah. Maka dari itu marilah kita selalu tetap menjaga kebersihan, serta keindahan lautan kita dari sampah, bukan dengan menutupnya seperti ini,” ucap Hannala.
Banyak warga yang setuju dan mengikuti Hannala. Warga percaya apa yang dikatakan Hannala itu benar, sampai kapan kita akan menyalahkan ombak yang tak bersalah.
Itu terdengar masuk akal, warga pun menyetujui nya dan meroboh pembatas tersebut.
Penduduk pesisir kampung pun kerja bakti untuk membersihkan sungai yang dipenuhi sampah, dan memperbaiki pipa masyarakat yang tersumbat.
Hanalla membagikan momen ini ke medsos sosial banyak komentar positif yang diraihnya.
Kini sampah sudah jarang masuk ke kawasan sungai usaha Hannala dan Leo berhasil. Banyak penduduk kota lainnya mengerti lewat poster dan medsos milik Hannala.
Kini kampung itu benar-benar kembali bersih, dan nelayan yang mencari ikan, makhluk hidup di air kini selamat. Semua masalah telah terpecahkan, kedamaiannya terlihat.
Jagalah keasrian lingkungan kita bukan dengan menyalahkan apa yang kita lihat.
Coba bayangkan sekali dua kali tentang ide yang kita temukan dan kuasai penyebab serta hikmah yang didapat.
Fhyona Vlorensya, Siswi SMPN 1 Toboali, Bangka Selatan

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.