Apakah seseorang yang menggunakan barang tiruan selamanya dilabeli kaum menengah ke bawah? Berbagai manipulasi atas kebutuhan palsu ini melahirkan fenomena konformitas yang terdepolitisasi, yaitu fenomena seseorang mengubah sikap dengan mengikuti norma sosial yang berlaku secara involuntir.

Pertanyaan skeptis lain pun muncul. Apa hal tergila yang akan dilakukan individu untuk mendapatkan validasi atas culture code yang ia raih? Jawabannya cukup gila juga.

Bukti bahwa kapitalisme meminta tumbal berupa konsumen itu sendiri sebagai produk jelas terlihat dari syarat submisi Kartu Tanda Penduduk (KTP) dalam pendaftaran skema kartu kredit, paylater, dan pinjaman online (pinjol).

Bermodalkan identitas diri, individu memiliki limit pinjaman berjuta-juta untuk menuntaskan hasrat posesivitasnya atas konsumsi barang tersier. Barang tentu skema ini tanpa sadar menjebak individu terhadap pembiasaan baru dalam kehidupannya. Sudah menjadi rahasia umum bahwa bekerja untuk membayar cicilan kartu kredit, paylater, atau pinjol adalah tren terbaru anak muda dewasa ini.

Baca Juga  Mengedepankan Etika Politik untuk Indonesia Damai

Ironisnya lagi, tak cukup banyak yang menyadari bahwa gaya hidup seperti ini bagaikan lingkaran setan tak berkesudahan. Dalam jangka waktu yang panjang, individu cenderung memenuhi berbagai kebutuhannya dengan skema pinjaman dan meninggalkan kebiasaan menabung yang jelas berisiko lebih rendah.

Berapa banyak anak muda yang tidak memiliki tabungan jangka panjang sebab segala sumber daya yang mereka miliki dialurkan untuk membayar kebutuhan palsu demi status berada yang semu?

Cukup sepakat dengan pernyataan Marcuse yang menuding bahwa manipulasi dan indoktrinasi tren gaya hidup hanya terbatas melayani kepentingan kelas penguasa secara terus menerus dengan masyarakat sebagai korban konsumsi kapitalisme.

Biografi Penulis

Windy Shelia Azhar merupakan penulis lepas di berbagai medium. Ia menulis cerpen, puisi, essai, dan opini berkutat pada isu feminisme, lingkungan, kebahasaan, dan sosial. Pernah kuliah di jurusan Sastra Inggris dan saat ini menempuh pendidikan di Ilmu Komunikasi. Berdarah asli melayu Bangka dan bermukim di Bali. Jenguk tulisannya di medium.com/@windyazhar

Baca Juga  Sastrawan Susah, Industri Buku Loyo: Pemerintah Bisa Apa?