Jahitan kedua melambangkan perlawanan yang mulai tumbuh di kalangan penduduk desa yang mulai sadar akan kezaliman yang terjadi. Satire tua merasa bahwa karya jahitan rompinya adalah satu-satunya cara baginya untuk menyuarakan kebenaran dan melawan korupsi yang merajalela.

Melalui (Rompi pink bergaris hitam) yang ia tiru dari tayangan-tayangan televisi yang ia tonton, Satire tua berharap beban keresahan dirinya selama ini terlepaskan dan agar masyarakat dapat membuka mata dan menyadari bahwa kekuasaan sejati seharusnya ada di tangan merekalah (masyarakat setempat), bukan di tangan para koruptor yang hanya ingin memperkaya diri sendiri, sehingga terjadi kerusakan pada alam sekitar yang begitu mengkhawatirkan bagi generasi sekarang dan selanjutnya.

Baca Juga  Bulan Ketiga Belas

Suatu hari, ketika acara peresmian tambang milik mineral oleh perusahaan tersebut, Satire memutuskan untuk menghadiri acara tersebut. Dia memakai ( Rompi pink bergaris hitam) hasil jahitannya, dengan maksud dari Satire tua memberikan pesan bahwa warna mencolok itu menjadi suatu simbol perlawanan terhadap kejahatan yang dilakukan oleh perusahaan tersebut.

Ketika Satire tua tiba di lokasi acara, para pejabat koruptor terheran-heran melihat penampilannya yang mencolok. Mereka tidak menyadari bahwa di balik kesederhanaan penampilan Satire tua dengan (Rompi pink bergaris hitam), ada pesan keteguhan hati dan keberanian yang tidak bisa mereka beli dengan uang.

Pada saat pemimpin perusahaan tersebut memberikan pidato panjangnya tentang pembangunan dan kemakmuran yang akan dibawa oleh tambang mineral itu, Satire tiba-tiba berdiri. Dalam diam, dia membuka jaketnya, memperlihatkan kepada semua orang di sana ( Rompi pink bergaris hitam) yang ia kenakan.

Baca Juga  Idulfitri Datang Tanpa Ketukan Pintu

“Apakah ini yang kalian sebut sebagai kemakmuran? Apakah ini yang kalian sebut sebagai pembangunan?” ujar Satire dengan suara lantang. Para pejabat koruptor terdiam. Mereka tidak menyangka bahwa Satire tua, sosok yang selama ini mereka anggap orang desa yang kurang wawasan dan pendidikan rendah, ternyata bisa berani melawan mereka di depan publik seperti ini.

Namun, Satire tidak gentar. Dia terus berbicara, menyindir mereka dengan kata-kata tajam dalam bahasa orang desa tentang korupsi dan kebohongan yang mereka lakukan. Masyarakat desa yang hadir pun mulai terdiam dan terpukau oleh keberanian Satire tua.

Mereka mulai membuka mata dan menyadari bahwa selama ini merekalah yang seharusnya memiliki kekuatan untuk melawan para koruptor tersebut, demi keseimbangan alam dan kesejahteraan masyarakat sekitar. Setelah acara itu, berita tentang aksi Satire tua dengan (Rompi pink bergaris hitam) menyebar dengan cepat di seluruh desa. Dia menjadi inspirasi bagi banyak orang yang telah lama merasa tertindas oleh praktik korupsi yang dilakukan oleh perusahaan tambang dan oknum para pejabatnya.

Baca Juga  Bisikan Lautan

Heri Suheri, C.IJ.,C.PW., CA-HNR.,C.FLS, Timelines.id