Oleh: Yan Megawandi

Beberapa waktu terakhir kita disibukan dengan berbagai komentar terkait pernyataan Menko Marinvest, Luhut Binsar Panjaitan (LBP). Dalam sebuah kesempatan LBP menyatakan agar presiden baru nanti jangan sampai merekrut orang toxic ke pemerintahan.

“Untuk presiden terpilih, saya bilang jangan bawa orang toxic ke pemerintahanmu, itu akan sangat merugikan kita,” kata Luhut sebagaimana dikutip berbagai media. Luhut menggunakan istilah toxic untuk merujuk kepada pihak-pihak yang cenderung menghambat kemajuan program kabinet karena tidak sejalan dengan visi dan arah yang telah ditetapkan,” kata Jodi kepada CNNIndonesia.com, Minggu (5/5/2024).

Mengapa dan bagaimana orang toxic tersebut sehingga sampai orang sekaliber LBP merasa perlu mengingatkan calon presiden baru Prabowo Subianto sedemikian rupa?

Sebelum mendiskusikan soal orang toxic atau pemimpin toxoc ini lebih dalam, ada baiknya kita melihat apa yang disampaikan oleh Sahirman Jumli, mantan Kepala BKPSDMD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang pekan lalu menyampaikan orasi ilmiahnya sebagai Widyaiswara Ahli Utama di hadapan Majelis Orasi di Lembaga Administrasi Negara (LAN RI) Jakarta.

Baca Juga  Peran Kampus sebagai Mitra Strategis Pemerintah Daerah: Arahan Presiden dalam Penguatan Solusi Akademik Berbasis Kebutuhan Nyata di Lapangan

Orasinya berjudul “Model Kepemimpinan yang Melayani dalam Upaya Meningkatkan Motivasi Kerja dan Profesionalitas Aparatur Sipil Negara pada Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung”.

Pemimpin yang Melayani

Menurut Sahirman dengan mengacu pada Greenleaf (1977) model kepemimpinan yang melayani atau Servant leadership tersebut adalah model kepemimpinan yang berfokus pada pelayanan kepada anggota tim.

Hal ini diyakini sesuai untuk diterapkan pada organisasi pemerintah guna meningkatkan motivasi kerja dan profesionalitas. Konsep kepemimpinan berorientasi kepada pelayanan diprakarsai oleh Robert Greenleaf (1904-1990) kemudian dikembangkan oleh Spears (2010) dengan mengindikasikan 10 karakteristik utama.

Karakter tersebut terdiri atas: listening (mendengarkan), empathy (empati), healing (penyembuhan), awareness (kesadaran), persuasion (persuasi), conceptualisation (konseptualisasi), foresight (kejelian), stewardship (kepedulian), commitment to the growth (komitmen pertumbuhan), dan building community (membangun komunitas).

Baca Juga  Implikasi Teknologi Blockchain dalam Sistem Hukum Perdata

Dengan demikian maka seorang servant leader atau pemimpin pelayan organisasi pemerintah harus memiliki pelbagai sifat tersebut untuk dapat memberi pelayanan prima utamanya kepada masyarakat.

Sahirman yang sudah seringkali bertugas sebagai penjabat bupati ini dalam penelitiannya ingin menyelidiki karakteristik kepemimpinan melayani pada beberapa OPD yang memiliki Indeks Profesionalitas (IP) ASN relatif rendah di lingkungan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Menurutnya hal ini bermanfaat sebagai upaya meningkatkan motivasi kerja dan profesionalitas ASN. Ia berusaha meneliti karakteristik kepemimpinan yang melayani pada lebih dari satu organisasi. Gunanya adalah untuk melakukan komparasi, melihat persamaan, perbedaan atau kecenderungan pada masing-masing organisasi.

Hasil penelitian yang dilakukannya sekitar tiga bulan tersebut adalah: karakter Komitmen pertumbuhan merupakan karakter dengan nilai terendah pada organisasi dengan IP ASN paling rendah dari kesepuluh OPD yang diteliti.

Baca Juga  Pengelolaan Keuangan Daerah Bangka Belitung di Era Otonomi Daerah: Tantangan dan Harapan

Secara keseluruhan, mendengarkan, empati dan kejelian menjadi karakter kepemimpinan melayani yang menonjol di lingkungan OPD. Sebaliknya, karakter penyembuhan, persuasi, kepedulian, dan membangun komunitas tergolong paling lemah.

Dengan kata lain karakter, mendengarkan, empati, dan kejelian dapat dikatakan sebagai sifat yang lebih kuat memicu semangat dan memacu profesionalitas diri dalam bekerja.

Kepemimpinan yang melayani dapat dijadikan sebagai model kepemimpinan yang memotivasi dan mendorong profesionalisme dalam bekerja pada organisasi pemerintah daerah maupun organisasi lainnya.

Pemimpin Toxic

Terdapat cukup banyak rujukan yang mendefinisikan pemimpin toxic. Pada orang kebanyakan tentu menginginkan lingkungan kerja yang membangun dan sehat. Dalam menciptakan lingkungan kerja yang ideal, ada peranan penting pemimpin di dalamnya.

Akan tetapi, bagaimana jika pemimpin tidak dapat menciptakan lingkungan kerja yang baik? Padahal, ketidaknyamanan sendiri akan berdampak besar bagi performa organisasi yang dipimpinnya.