Kompas.com misalnya dengan merujuk pada Leadership Forces, mendifinisikan toxic leadership adalah sosok pemimpin dengan sifat berbahaya yang dapat melukai anggota tim, perusahaan, dan bahkan orang lain di sekitarnya.

Atau definisi dari greatdayhr.com yang menyatakan bahwa pemimpin toxic adalah seorang pemimpin yang menunjukkan perilaku merugikan, merendahkan, atau meracuni lingkungan kerja dan anggota timnya.

Mereka cenderung fokus pada kepentingan pribadi mereka sendiri, sering menggunakan taktik yang merugikan anggota tim, dan dapat menciptakan lingkungan kerja yang tidak sehat.

Secara umum dapat dikatakan bahwa Kepemimpinan yang toxic (toxic leadership) merupakan tipe kepemimpinan yang bersifat destruktif, baik terhadap anggota, tim, organisasi, dan masyarakat secara keseluruhan.

Biasanya, pemimpin yang toxic (toxic leader) akan menunjukkan kemampuan manajerial yang tidak efektif, termasuk saat mendelegasikan tugas.

Di samping itu toxic leader juga cenderung menjadi anggota tim maupun rekan kerja yang toxic. Beberapa di antara mereka mungkin menjadi sosok pekerja keras yang setia pada organisasi. Atau bahkan mungkin saja mereka akan digambarkan sebagai sosok yang kreatif dan berani.

Namun sayangnya, mereka tidak bisa menempatkan prioritas dengan baik sebagai pemimpin karena fokus untuk mempromosikan dirinya sendiri. Mengapa demikian? Untuk mengetahuinya mari kita lihat beberapa ciri pemimpin toxic tersebut.

Baca Juga  Oktober Ceria Melalui Bulan Bahasa 2025

Kompas.com mengungkapkan setidaknya ada empat ciri yaitu: 1. Anti kritik; 2. Mementingkan diri sendiri; 3. Inkonsisten dan selalu berbohong; dan 4. Perilaku diskriminasi. Sementara greatdayhr.com mengidentifikasi sampai sepuluh ciri pemimpin toxic ini, yaitu: 1. Egois; 2. Manipuliatif; 3. Ketidakadilan; 4. Intimidatif; 5. Tidak jujur; 6. Kurang empati; 7. Berkonfik secara terus menerus; 8. Pendekatan otoriter; 9. Emosi tidak stabil; dan 10. Tidak bertanggung jawab.

Adapula yang mengindentifikasi ciri pemimpin toxic tersebut sebagai: 1. Tidak menghargai karyawan; 2. Sikap kompetitif yang berlebihan; 3. Sangat mementingkan hirarki; 4. Melakukan penyalahgunaan kekuasaan; 5. Melakukan perundungan atau bullying dan 6. Micromanaging atau gaya manajemen kepemimpinan yang Ingin mengontrol semua hal. Adakah ciri-ciri pemimpin seperti ini di lingkungan kerja anda?

Hal-hal yang menjadi ciri pemimpin toxic tadi menandakan bahwa sejatinya tidak mudah menjadi seorang pemimpin yang baik. Karena masih cukup banyak kita mendengar dan menyaksikan ciri-ciri tersebut justru yang diterapkan oleh yang dinamakan pemimpin di sekitar kita.

Baca Juga  Telaah Umum: Perlukah Fasilitas Publik Jembatan Penyeberangan Orang di Kota Pangkalpinang

Anda dapat membayangkan bagaimana tersiksa dan sengsaranya karyawan dan staf yang dipimpin oleh pemimpin toxic ini. Ciri-ciri di tadi juga merupakan penanda masih ada cukup banyak pemimpin yang belum mampu menciptakan lingkungan kerja yang positif dan menjadi pribadi yang membangun tim.

Menjadi pemimpin yang baik bukan perkara mudah. Ada yang merasa menjadi pemimpin gara-gara mendapatkan surat tugas atau surat keputusan memimpin sebuah organisasi. Namun sesungguhnya kapasitasnya masih belum sesuai dengan standar kompetensi yang dipersyaratkan.

Itulah sebabnya mengapa, seorang yang mengaku pemimpin harus mau selalu belajar dan mendengarkan orang lain agar dapat menjadi sosok pemimpin yang ideal. Dengan kemampuan itu maka ia akan terhindar sebagai pembuat terciptanya lingkungan kerja toxic, membuat frustasi dan kejenuhan bekerja.

Di masa kini apalagi di era pasca Covid 19, semakin banyak orang yang menyadari bahwa pemimpin yang baik adalah pemimpin yang dapat dengan luwes menjalin kerja sama lintas organisasi, lintas wilayah dan lintas kepentingan.

Istilah kolaborasi sudah menjadi jargon baru dalam menjalankan kepentingan bersama demi misi organisasi. Bagaimana mungkin Kerjasama yang baik dapat terjalin apabila ciri-ciri pemimpin toxic diataslah yang anda temui di tempat bekerja. Misalnya saja masih ada saja pemimpin yang memaksakan anggotanya untuk selalu mendominasi di tiap kegiatan dimanapun dan kapan pun itu.

Baca Juga  Di Warung Budhe, Literasi Tak Pernah Mati

Atau boleh jadi sang pemimpin in sedang terorbsesi akan dahaga untuk selalu jadi pusat perhatian, alias narsis dan MPO.

Tulisan ini hanya bermaksud untuk mengingatkan kita semua bahwa menjadi pemimpin yang baik adalah sebuah proses panjang yang penuh pembelajaran dengan memperbaiki pola hubungan yang efektif dengan semua pihak. Terutama staf dan karyawan anda.

Dan itu dimulai dari pengakuan kecil. Bahwa kita tak ada yang sempurna apalagi merasa hebat sendiri. Karena bila itu tidak dilakukan maka jalan untuk menjadi pemimpin toxic justru sangat mungkin yang anda pilih dan jalani.

Dalam konteks itu maka penelitian yang dilakukan oleh Sahirman tentang pemimpin yang melayani, serta peringatan LPB jadi penting kita cermati. Salam Takzim

Yan Megawandi, Ketua Asosiasi Tradisi Lisan dan Pemerhati Budaya Bangka Belitung