Eksostisme Taman Nasional Gunung Maras Kabupaten Bangka
Berdasarkan pendataan BKSDA Sumatera Selatan, pada tahun 2020 potensi keanekaragaman hayati baik flora dan fauna di Taman Nasional Gunung Maras dikategorikan tinggi dibandingkan wilayah sekitarnya.
Potensi flora yang teridentifikasi antara lain meranti (Shoreasp), ketapang (Terminalia catappa), bungur (Lagerstroemia speciosa), johar (Cassia siamea), pelawan air (Tristaniopsiswhiteana), pelawansungon (Tristaniopsisobovata), pelawanmerah (Tristaniopsismerguensis), medang (Phoebe sp.), mahang (Macaranga sp.), kantongsemar (Nepenthes sp.), dan berbagai jenis anggrek, salah satunya anggrek merpati (Dendrobium crumenatum).
Selain itu. Untuk potensi fauna antara lain trenggiiling (Manis javanica), kancil (Tragulusjavanicus), musang (Paradoxurus hermaphroditus), ayamhutan (Gallus varius), biawak (Varanus sp.), lutung (Trachypithecus auratus), dan berbagai jenisular.
Pantangan – Larangan di TN Gunung Maras
Sebagai gunung yang tertinggi di Pulau Bangka, Gunung Maras memiliki potensi sebagai obyek wisata alam petualangan pendakian.
Bagi para pendaki, ada hal-hal yang wajib dipatuhi saat berwisata disini, yaitu pantang untuk melakukan hal-hal sebagai berikut: mandi di air tanpa berpakaian, bersiul, membawa telur bebek, berkata kotor, membawa ketan, memukul jangkar pohon dengan tongkat, menyalakan api unggun dan membawa pisang masak.
Sedangkan ketentuan lain secara umum adalah dilarang untuk: merusak, mencoret, menebang pohon, merusak ekosistem di spot tersebut; membawa senjata tajam (parang, kapak, chainsaw/mesin potong kayu); membawa minuman keras serta meminum minuman keras dan obat-obatan terlarang sertamengggunakanya; mengambil apapun kecuali foto/dokumentasi; membuang sampah sembarangan yang mengotori spot wisata dan bagi barang atau benda pendaki yang menjadi sampah harus dibawa pulang kembali.
“Pantangan adat dan larangan umum pada susur alam di Taman Nasional Gunung Maras ini kami sepakati bersama pada kegiatan pecinta alam tahun 2020. Pantangan Adat ini sudah diyakini sejak saya mendampi pendakian di tahun 1986” cerita Damino, salah satu masyarakat mitra KSDAE yang tinggal di Desa Berbura.
Keunikan ini mendorong para pecinta alam atau wisatawan dan pendaki yang ingin menikmati keindahan Gunung Maras, harus mempersiapkan diri. Bukan hanya dalam kesiapan izin, fisik dan logistic, namun juga membekali diri dengan pengetahuan aturan adat yang berlaku.
Sumber: jasling.menlhk.go.id
