PARIWISATA, TIMELINES.ID — Pesona pulau Bangka Belitung kerap kali dilekatkan dengan keindahan pantai dan museum Andrea Hirata “Ikal Laskar Pelangi”.

Sementara itu, kawasan perbukitannya belum banyak dikenal masyarakat pada daerah kepulauan ini.

Seperti halnya oase di padang pasir, Gunung Maras yang ditetapkan melalui Keputusan Menteri LHK Nomor:SK.576/MENLHK/SETJEN/PLA.2/7/2016 tanggal 27 Juli 2016 menjadi kawasan konservasi dengan status Taman Nasional merupakan sumber air bagi masyarakat di pulau Bangka.

Mengutip jasling.menlhk.go.id, sebagaimana halnya masyarakat asli setempat seperti Suku Mapur, Suku Maras, dan Suku Erabik, beberapa masyarakat pendatang di pulau Bangka menggantungkan hidupnya pada sumber air yang berasal dari Taman Nasional Gunung Maras dengan luas sekitar 16.806,91 Ha.

Baca Juga  24 Warga Kabupaten Bangka Terjangkit HIV, 3 Meninggal Dunia

Dikelilingi oleh 12 Desa, kawasan konservasi ini menunjang kebutuhan air bagi masyarakat di 8 desa yaitu; Desa Beruba, Desa Bukit Layang, Desa Mabat, Desa Bakam, Desa Dalili, Desa Tiang Tara, Desa Banyuasin dan Desa Pangkal Nyiur.

Secara administratif Taman Nasional Gunung Maras berada di wilayah Kabupaten Bangka dan Kabupaten Bangka Barat. Namung sebagian besar kawasannya berada di kabupaten Bangka.

Direktorat PJLKK pada tanggal 22 Juni 2022, berkesempatan berkunjung menikmati salah satu lanskap Gunung Maras tepatnya di Dusun Buhir, Desa Berbura, Kecamatan Riau Silip, Kabupaten Bangka, Kepulauan Bangka Belitung.

“Kawasan Taman Nasional Gunung Maras hingga saat ini, kewenangan pengelolaannya menjadi tanggung jawab Balai KSDA Sumatera Selatan sambal menunggu terbentuknya UPT Taman Nasional Gunung Maras kedepannya” ungkap Dedi, Kepala Resor Konservasi Wilayah XVI Bangka, Balai KSDA Sumatera Selatan.

Baca Juga  Kamu Suka Berpetualang, Ini 8 Wisata Air Terjun Eksotis di Bangka Belitung

Sepanjang pengamatan, kondisi ekosistem di kawasan konservasi ini bergam mulai dari ekosistem baik, ekosistem terlindungi, hingga yang mengalami kerusakan.

Di kaki Gunung Maras, masih banyak dijumpai perkebunan sawit, karet bahkan lada. “Kebun-kebun ini khususnya kebun sawit dan karet sudah ada sejak lama bahkan sebelum ditetapkan menjadi Taman Nasional” tambah Dedi dalam perjalanan menuju pos awal pendakian Gunung Maras.