Oleh: Yan Megawandi

Sudah cukup lama saya tak berjumpa dengan teman-teman pelaku pariwisata di pulau Bangka. Minggu lalu akhirnya perjumpaan tersebut terjadi. Orang yang menginisiasinya adalah Johnnie Sugiarto. Lelaki yang telah mengembangkan bisnis pariwisata lebih dari tiga dekade lalu di Bangka.

Pemilik sejumlah jaringan bisnis wisata di Indonesia mulai dari media sampai hotel dan restoran ini nampak selalu tampil keren. Juga malam itu di hotel Parai miliknya. Mengenakan kemeja batik merah dan celana jins hitam ia menyapa para tamu.

Puluhan orang yang datang kemudian terlibat dalam sebuah ide bagus yang sekarang ingin didorong oleh JS. Begitu saya biasa menyapa Johnnie Sugiarto. Tamunya malam itu mulai dari jajaran pemerintah daerah yang menggawangi kepariwisataan, pengelola hotel, restoran, rumah makan dan usaha pariwisata lainnya.

Ada pula yang mewakili masyarakat sekitar Kawasan Parai Beach Resort. Menurut JS di tengah keterpurukan dunia pariwisata di Bangka Belitung maka harus dibuat sebuah gerakan baru yang diharapkan bisa membawa titik terang. Latar belakang kondisinya kira-kira begini. Ekonomi makro Bangka Belitung memang sedang tidak baik-baik saja. Angka pertumbuhan jeblok.

Baca Juga  Mengulik Kebijakan Otda dalam Penanganan Krisis Timah terhadap Lahan Eks Tambang di Babel

Terendah di Sumatera dan terendah dalam sejarah provinsi ini. Tingkat hunian hotel juga tak jauh beda. Menurut seorang kepala dinas tingkat hunian hotel di Bangka Belitung sudah menjadi yang terendah ketiga di tanah air. Seorang anak muda pengusaha hotel di Pangkalpinang berbisik kepada saya bahwa bisnis hotelnya suram beberapa waktu terakhir.

Malangnya lagi di tengah kelesuan yang melanda tersebut ternyata pemerintah daerah juga mengalami kesulitan dalam mengelola keuangan. Pendapatan turun sementara pos belanja belum bisa dikurangi atau dieffisienkan secara berimbang.

Makanya pemerintah daerah memandang gerakan penghematan perlu dilakukan segera. Salah satunya dengan mengurangi kegiatan rapat dan pertemuan di hotel-hotel. Karena itu pengusaha hotel lalu mulai galau. Pengunjung berkurang. Hotel sepi.

Baca Juga  Merindukan Gedung SMA: Jurang Pendidikan Menganga di Desa Mayang Bangka Barat

JS malam itu menyampaikan sebuah program yang diberinya judul “Bangka Menyapa Dunia”. Ia dan tim sudah menyiapkan sejumlah acara bahkan logo. “Kita tidak boleh hanya berhenti dengan mengeluh. Saja. Kita mesti buat sesuatu untuk mengubah situasi ini. Menunggu saja jangan, apalagi mengeluh,” ujarnya. Harus berupaya berjuang sekuat mungkin.

Ia mengajak pelaku pariwisata yang ada di Bangka untuk bekerja sama. Silakan bila teman-teman ada yang mau promosi. Kami akan membantu dengan media promosi yang ada di bawah Yayasan El John seperti televisi, majalah, tiktok, Instagramgram dan lain-lain. Menurutnya semua bisa dimanfaatkan secara gratis. Menurut JS bulan Februari 2025 akan ada kunjungan kapal pesiar ke Bangka, dan akan ada tiga kapal pesiar lagi yang bakal datang.

Baca Juga  Hore! PLN Icon+ dan Pemkab Basel Kolaborasi Sediakan Puluhan Titik Wifi Gratis di Pulau Lepar

JS juga mengajak agar pelaku wisata bisa sharing bersama karena kondisi pariwisata kita belum memungkinkan. Ia juga berharap semoga tidak ada pihak yang merasa tersinggung dengan ide ini.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga Provinsi Bangka Belitung yang ikut hadir malam itu bersama Kepada Dinas Pariwisata Kabupaten Bangka, menyambut gembira adanya ide Bangka Menyapa Dunia. Ia dan jajaran paling tidak akan membantu menyiapkan semacam cenderamata untuk tamu dari kapal pesiar yang berkunjung ke Bangka tersebut.

Pasca Covid 19 memang kolaborasi dalam menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi menjadi tema penting yang perlu mendapat perhatian. Apalagi di dunia pariwisata yang sangat kompleks dan melibatkan kepentingan dan kewenangan lintas sector.