Saya Memilih Cacat Intelektual daripada Kehilangan Moral
Generasi saat ini adalah cikal bakal pemimpin Bangsa suatu saat. Apa bedanya dengan pemimpin yang menindas rakyat hari ini ketika mereka tidak menjaga adab dan moral mereka. Kita sebagai generasi muda adalah bibit-bibit yang merubah nasib Bangsa ini.
Hari ini, terdengar perubahan pada diri seseorang yang adabnya bagi saya tergeser. Tanpa menyaring apa yang disampaikan orang lain, menelan mentah-mentah dan mengaktualisasikannya. Tanpa ia sadar, ucapan ia memanggil orang yang jauh lebih tua seperti itu yang berubah seketika adalah menunjukkan dengan terang bahwa adabnya merosot.
Kalau merasa tundukanlah kepala, renungkan dalam hatimu, apakah yang engkau lakukan itu benar. Apakah orang tuamu (walimu) pernah mendidikmu untuk tidak beradab didepan orang yang jauh lebih tua. Ketika tidak! tanamkan dalam dirimu, setinggi-tingginya dirimu menuntut ilmu. Namun di depan orang tua kau tidak mampu menghargai.
Coba ingat di mana pertama engkau belajar. Orang tua? Guru ngaji? Guru di kampung? Mereka mengajarkan dasar untuk beradab, jarang mereka mengajarkan dirimu untuk langsung mempelajari filsafatnya Al-Ghozali, tidak menyuruh langsung mempelajari filsafatnya Aristoteles, dan tidak pula langsung mengajarkan filsafatnya Karl Marx. Tapi adab yang pertama ditanamkan dalam dirimu.
Semua tergantung pada niat kita : إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ bahwa “Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung pada niatnya”. Ketika niat dalam diri bukan untuk selalu meninggikan diri, ketika ada niat untuk lebih baik. Maka semua ada jalan. “Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sebelum mereka sendiri yang merubahnya.” (Q.S. Ar-Ra’d Ayat : 11).
Dengan penuh kesadaran dan kerendahan hati bahwa diri ini jauh dari kata baik. Semoga sepercik tulisan yang sengaja menyinggung para aktivis/mahasiswa dapat direnungkan.
Marwan/Ketua Umum HMI Komisariat Universitas Bangka Belitung/mahasiswa Hukum UBB
