Oleh: Febriansyah – Mahasiswa Universitas Bangka Belitung

Bayangkan sebuah tempat yang seharusnya menjadi surga ilmu dan impian, justru berubah menjadi neraka bagi sebagian anak-anak kita.

Lembaga pendidikan, yang seharusnya menjadi pelindung dan pembentuk masa depan, kini sering kali menjadi saksi bisu dari kekerasan seksual yang menghancurkan jiwa dan harapan.

Kekerasan seksual di sekolah dan pesantren bukan sekadar masalah individu, tapi luka besar yang mencoreng wajah pendidikan kita. Ini adalah kegagalan sistem, kegagalan kita semua-guru, orang tua, pemerintah, dan masyarakat-dalam menjaga anak-anak yang kita cintai.

Saat anak-anak takut melangkah ke kelas karena trauma, saat mereka menyimpan rahasia kelam dalam diam, kita harus bertanya pada diri sendiri: Apakah kita sudah cukup peduli?

Baca Juga  Gandeng Kejari, LBH Milenial Peduli Bateng Gelar Sosialisasi Pencegahan Kekerasan Anak

Yang paling memilukan adalah, korban sering merasa terperangkap dalam kesunyian. Mereka takut stigma, takut tidak dipercaya, bahkan takut kehilangan masa depan.