Jangan Jadikan Kampus sebagai Pabrik Robot Berijazah
Oleh: Sobirin Malian — Dosen Fakultas Hukum Universitas Ahmad Dahlan
Dunia pendidikan kita hari ini sedang menghadapi paradoks besar atau dilema khususnya perguruan tinggi (PT). Kehadiran Kecerdasan Buatan (AI) membawa ancaman laten bernama false mastery, sebuah kondisi di mana mahasiswa tampak menguasai materi melalui output instan, padahal proses kognitifnya kosong.
Mengandalkan hasil akhir dari AI tanpa proses berpikir ibarat seorang atlet yang memenangkan balapan dengan menggunakan motor elektrik di lintasan lari; ia mencapai garis finis paling cepat, namun otot-ototnya tetap lemah dan tidak terlatih. Untuk mengatasi patologi ini, perguruan tinggi tidak bisa lagi sekadar mengandalkan moralitas individu. Diperlukan transformasi sistemik melalui arsitektur kebijakan yang konkret, yang memindahkan fokus penilaian dari hasil akhir menuju validasi proses intelektual yang autentik.
Transformasi ini harus dimulai dengan keberanian merombak standar evaluasi melalui Redesain Radikal Metode Penilaian (AI-Proof Assessment). Kita harus mengakui bahwa tugas-tugas mandiri di luar kelas, seperti makalah atau esai konvensional, kini telah kehilangan validitasnya karena sangat rentan dikerjakan sepenuhnya oleh mesin.
Perguruan tinggi perlu secara drastis mengurangi bobot nilai pada tugas-tugas “bawa pulang” tersebut dan mengalihkannya pada aktivitas yang menguji penalaran langsung di dalam kelas. Jika esai adalah hasil foto studio yang bisa diedit sedemikian rupa, maka ujian di kelas adalah “siaran langsung” yang menampilkan kejujuran intelektual tanpa filter algoritma.
Salah satu langkah taktisnya adalah menghidupkan kembali tradisi Viva Voce atau ujian lisan sebagai standar emas penilaian. Dalam dialog langsung, AI kehilangan tajinya karena mahasiswa dituntut untuk mempertahankan argumen, menjelaskan logika di balik setiap pernyataan, dan merespons interupsi kritis secara spontan.
