Oleh: Sobirin Malian — Dosen Fakultas Hukum Universitas Ahmad Dahlan

Di era yang mengagungkan istilah “agile” dan “fleksibel”, kita sering dipaksa untuk terus berubah demi relevansi. Namun, ada bahaya laten yang mengintai: jika kita terus-menerus berubah warna mengikuti latar belakang tanpa prinsip, pada titik mana kita sebenarnya telah kehilangan diri sendiri?

Dalam filsafat klasik hingga psikologi modern telah memberikan jawaban yang sama: Kekuatan sejati bukan terletak pada seberapa cepat kita bereaksi, melainkan pada seberapa utuh kita bertahan. Berikut adalah beberapa pendapat filosof klasik tentang filosofi hidup agar kita tidak hanyut tanpa makna di era yang sangat “instan” karena tak memiliki pendirian (prinsip hidup).

Kedaulatan Batin dalam Badai (Stoa)

Bayangkan diri Anda sebagai nakhoda. Dunia luar ekonomi yang jatuh, tren yang berganti, opini publik adalah cuaca yang tidak bisa Anda perintah. Marcus Aurelius dalam Meditations (170-180M) mengingatkan bahwa kekuatan kita hanya ada pada “daya pilih” (prohairesis). Jika kita reaktif terhadap setiap perubahan eksternal, kita sebenarnya sedang memberikan kunci kebahagiaan kita kepada orang asing. Integritas berarti memastikan bahwa meski kapal terombang-ambing, kompas di tangan kita tetap menunjuk ke utara yang sama.

Baca Juga  Apakah Perlu Jadi si Ekstrovert Jika Mau Sukses?

Filsafat Stoa memang menekankan pentingnya kedaulatan batin (inner citadel) sebagai kunci untuk mencapai kebahagiaan dan ketenangan jiwa. Stoa mengajarkan bahwa individu harus fokus pada hal-hal yang dapat mereka kontrol, yaitu pikiran, emosi, dan tindakan mereka sendiri, serta melepaskan kekhawatiran tentang hal-hal yang tidak dapat mereka kontrol, seperti kejadian luar dan hasil.

Kedaulatan batin ini berarti bahwa individu memiliki kemampuan untuk mengontrol diri sendiri, membuat keputusan yang bijak, dan tidak terpengaruh oleh emosi negatif atau keadaan luar. Dengan demikian, individu dapat mencapai kebahagiaan dan ketenangan jiwa yang tidak tergantung pada keadaan luar.

Melawan Arus “Mereka” (Eksistensialisme)

Heidegger (Being and Time,1927) pernah memperingatkan tentang Das Man suara massa yang anonim. Saat kita sekadar mengikuti tren tanpa filter, sejatinya kita sedang hidup dalam ketidakotentikan. Kita menjadi “siapa saja” dan akhirnya menjadi “bukan siapa-siapa”. Sebaliknya, Kierkegaard (dalam The Present Age, 184) menekankan bahwa menjadi diri sendiri adalah sebuah tugas yang berat namun mulia. Menjadi utuh berarti berani berkata “tidak” pada perubahan yang menggerus nilai inti, meskipun seluruh dunia bergerak ke arah sebaliknya. Keirkegaard, mengkritik masyarakat modern yang dianggapnya terlalu fokus pada keseragaman dan kehilangan (jati diri) individualitas.

Baca Juga  Mahasiswa MP UAD Gelar Webinar Nasional, Tingkatkan Kompetensi Guru Wujudkan Merdeka Belajar

Martin Heidegger menekankan bahwa hidup harus dijalani dengan kesadaran dan keaslian, yaitu dengan menjadi diri sendiri dan tidak terjebak dalam identitas yang dipaksakan oleh orang lain atau masyarakat. Jika kita memiliki kesadaran dan keaslian ini, kita dapat menjadi diri sendiri dan hidup dengan lebih otentik.

Namun, ironisnya, jika kita tidak memiliki kesadaran dan keaslian ini, kita dapat menjadi “siapa saja” (Man-Selbst), yaitu menjadi diri yang tidak asli dan hanya mengikuti norma-norma dan ekspektasi orang lain. Dalam hal ini, kita dapat kehilangan diri sendiri dan menjadi “bulan siapa-siapa” (das Man), yaitu menjadi diri yang tidak memiliki identitas yang jelas dan hanya mengikuti arus.

Baca Juga  Ketika Amerika Shutdown, Saatnya Gen-Z Menyalakan Islam

Fleksibilitas Tanpa Kehilangan Esensi (Taoisme)