Haters
“Bagus, dan… terima kasih banyak… untuk segalanya.”
“Kau bertingkah seolah kita akan berpisah selamanya,” ujar Luna sambil tertawa dengan jari yang mencubit pangkal hidung Mike, dan Mike hanya bisa tersenyum tanpa bisa bereaksi apapun.
“Jangan lupa kabari aku saat sudah sampai Jakarta,” kata Mike.
Setelah mengangguk, Luna segera berlari ke pesawat mengejar ketertinggalannya. Mike menatap punggung kekasihnya yang perlahan menghilang di antara kerumunan. Tak lama berselang, air mata mulai mengalir dari balik pelupuk matanya.
Sementara Luna tak sengaja melihat Mike dari dalam pesawat sebelum lepas landas. Dia sempat melihat mata Mike yang memerah dan tangannya menutupi wajahnya sebelum berbalik dan perlahan menghilang.
“Kenapa Mike menangis?” benaknya.
Luna hanya tidak tahu apa yang menantinya.
*****
Luna baru tahu apa yang arti semua itu empat hari setelahnya. Saat dia mendapatkan telepon dari Nathan, adik semata wayang Mike yang sebentar lagi akan menjadi adik iparnya.
“Halo, Nathan? Astaga, kau membuatku terkejut. Aku baru saja akan meneleponmu. Kau ingin memberitahuku tentang Mike, kan?”
Hening. Keheningan yang menyiksa selama beberapa detik. Tak sedikitpun terdengar suara Nathan.
“Nathan?”
“Kakak ipar– maksudku, Luna! Bisakah kau pulang ke Surabaya sekarang juga?”
Awalnya Luna berpikir mereka akan mengadakan pesta atas kemenangan Mike di Italia, namun suara Nathan yang tercekat dan terbata-bata mengatakan hal lain, “Nathan, apa ada yang salah? Apa kau menangis?”
“Se-sesuatu yang buruk telah terjadi. Po-pokoknya kau datang saja!”
“Ada apa ini?! Jangan membuatku takut! Berikan teleponnya pada Mike, aku ingin bicara dengannya.”
“Tidak bisa!!” Seketika terdengar teriakan menyakitkan dari tenggorokannya yang menangis, tiba-tiba saja Nathan menangis tersedu-sedu.
“Nathan, apa terjadi sesuatu pada Mike?” Luna mulai merasa takut.
Masih dengan sesengukan Nathan berkata, “Mike… dia pergi. Dia pergi dan tidak akan kembali! Oh Tuhan, aku tidak tahu bagaimana mengatakannya, tapi dia telah tiada! Mereka telah membunuhnya….” Setelahnya hanya terdengar suara tangis yang bercampur dengan suara statis.
Ponselnya telah terjatuh ke tanah dan Luna tahu itu adalah saat di mana hidupnya berhenti. Peristiwa yang membawa trauma dan akan dikenang hingga akhir hayat.
Sheila Fiorencia Caroline, alumnus SMKN 1 Sungailiat, aktif menulis dan telah menerbitkan buku cerpen “Tiga Menit Hening”
