Oleh: Yan Megawandi

Terkadang penyebutan panggilan kepada orang lain merupakan hal yang bisa membuat atau memberikan kesan pada pertemuan pertama. Mirip kata-kata di sebuah iklan: “Kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah anda”.

Suatu ketika saya agak terkejut sewaktu dipanggil “Abang” oleh seorang yang menurut saya lebih senior dari pada saya. Mestinya justru saya yang memanggilnya Abang. Merasa jangan-jangan ada yang salah, akhirnya saya berusaha menyimak dengan lebih seksama pembicaraan kami waktu itu. Ternyata tetap saja sapaan Abang tersebut beberapa kali disampaikan oleh senior saya itu. Saya terus terang merasa sangat dihormati dan diistimewakan oleh lawan bicara saya tersebut.

Pertemuan dengan senior tersebut terjadi sekitar tahun 2015 di sebuah hotel di Jakarta. Perjumpaan berlangsung setelah Gubernur Rustam Effendi ketika itu selesai menandatangani perjanjian kerja sama dengan Kepala BATAN, Prof. Jarot S Wisnobroto.

Senior yang menjadi lawan bicara saya ketika itu diperkenalkan oleh Gubernur sebagai putera Bangka Belitung yang pintar. Kalau tak silap, waktu itu ia masih bekerja sebagai peneliti di BPPT sekaligus menjadi ketua alumni perguruan tinggi terkenal, ITB. Anda betul. Ia adalah Ridwan Djamaluddin yang belakangan sering disapa RD.

Karirnya terus bersinar setelah menjadi deputi di BPPT lalu di Kemenko Marves. Ia selanjutnya ditugasi menjadi Direktur Jenderal Mineral dan Batubara di Kementerian ESDM, salah satu eselon satu yang memegang peranan sentral dalam mengelola sumber daya alam di negeri ini.

Baca Juga  Ridwan Djamaluddin Berencana Merotasi Pejabat di Pemprov Babel, Diduga Ini Pemicunya

Di penghujung karirnya, RD diberikan tugas lain yaitu menjadi Penjabat Gubernur Kepulauan Bangka Belitung. Itu artinya ia merangkap jabatan sebagai Dirjen dan Pj. Gubernur sampai dengan akhir pengabdiannya sebagai PNS.

Selama menjabat sebagai Pj. Gubernur sebenarnya cukup banyak yang telah dilakukannya (anda boleh beda pendapat dengan saya). Hal pertama yang selalu akan saya kenang dari sosok seorang RD adalah kesederhanaannya. Lihatlah penampilannya. Selalu berpakaian kasual bahkan tak jarang hanya mengenakan t-shirt alias kaos oblong.

Namun kecepatannya dalam mengambil keputusan patut dipuji. Saya pernah diajak RD untuk ikut rapat yang dipimpinnya tentang sengketa Pulau Tujuh. Setelah mendengarkan penjelasan berbagai pihak, ia kemudian menyimpulkan dan mengambil keputusan untuk menugaskan beberapa pihak yang hadir untuk melakukan tindak lanjut.

Menurut saya arahannya di akhir rapat itu keren, detil, dan solutif. Walaupun saya tak paham bagaimana kelanjutan arahan tersebut dieksekusi oleh para pejabat yang diperintahkannya.

Cerita Seorang Staf

Sebagai pribadi yang berlatar belakang peneliti, RD adalah pendengar yang baik. Ia akan coba mendengarkan apa yang disampaikan oleh orang lain untuk mengumpulkan informasi dan pemahamannya. Ada seorang staf yang pernah menyampaikan permasalahan yang dihadapinya karena merasa dizolimi oleh seorang pejabat.

Baca Juga  Hari Pers Internasional, Pentingnya Kebebasan Pers dan Kebebasan Berekpresi

Padahal isi curhat dan keluhan sang staf cukup panjang. Sang staf merasa sangat dihargai karena didengarkan dengan seksama oleh RD. “Bahkan ada seorang tamu yang mencoba menyela pembicaraan kami, tetapi beliau dengan sopan minta tamu tersebut menunggu sebentar sampai saya selesai menyampaikan masalah saya,” cerita sang staf tadi. Masalah yang hampir setahun dihadapi oleh staf ini pun selesai dalam waktu hitungan hari.

Sebagai pemimpin yang mau belajar, ia tidak segan bertanya dan belajar dari siapa saja yang menurutnya dapat ia timba ilmunya. Seorang staf yang lain juga merasa sangat dihargai ketika ia diminta menceritakan permasalahan yang dihadapinya di bidang tugasnya oleh sang Pj. Gubernur.

“Sepanjang perjalanan di mobil dinas gubernur itu saya diminta beliau bercerita tentang kondisi yang dihadapi dan apa kira-kira saran yang perlu dilakukan. Belum pernah saya naik mobil gubernur dan merasa diperlakukan seperti itu oleh seorang pejabat tinggi, Pak,” cerita sang staf dengan nada suara bergetar.

Ada lagi sebuah cerita, seorang staf yang saat itu sedang mengikuti sebuah diklat daring dari rumahnya terkejut-kejut ketika tiba-tiba RD mengirimkan pesan agar memeriksa dan menyunting naskah pidato serta paparan yang disiapkan untuk ia sampaikan dalam suatu gelaran internasional di Belitung.

Padahal staf tersebut tahu pasti, RD yang seorang geologis dan ahli penginderaan jauh lulusan sebuah institut geoinformasi terkemuka di Belanda dan AS ini sangat fasih berbahasa Inggris dan tidak akan memerlukan teks pidato dan sewajarnya menguasai presentasi yang disiapkan.

Baca Juga  Soal 'Maling Besar', Pj Gubernur Babel Diadukan ke Polisi

“Saya sampai mengabaikan materi diklat setengah hari karena akhirnya serius menyunting naskah pidato dan presentasinya, walaupun saya tahu pasti beliau pasti tidak akan membaca teksnya on the spot,” kata staf ini. Belakangan staf ini memahami jika RD sedang mengujinya untuk mengisi sebuah posisi.

Sayangnya di ujung masa pengabdian RD sebagai PNS, cobaan bertubi-tubi menderanya. Pertama adanya berita mengenai masalah keuangan yaitu manipulasi tentang perjalanan dinas di kantornya di Ditjen Minerba yang ditangani oleh KPK. Jumlahnya cukup besar sampai miliaran rupiah.

Bahkan  ia sempat diminta keterangan pula oleh KPK. Untungnya RD tak terlibat di masalah ini. Kasus terakhir yang menjeratnya adalah masalah korupsi. Ridwan Djamaluddin, divonis 3 tahun 6 bulan penjara terkait kasus korupsi pertambangan ore nikel di Blok Mandiodo, Konawe Utara, Sulawesi Tenggara (Sultra).

Walaupun RD tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi sebagaimana yang didakwakan penuntut umum dalam dakwaan primer, serta hakim membebaskan para terdakwa dari dakwaan primer tersebut, namun ia dinyatakan melakukan korupsi dalam dakwaan yang lain.