Bagaimanapun, RD adalah putra daerah yang dengan kelebihan dan kekurangannya telah berusaha berbuat yang terbaik untuk tanah kelahirannya. Selain telah bertugas sebagai Pj. Gubernur, salah satu upayanya yang mungkin akan dinikmati oleh Bangka Belitung ke depan yaitu mendapatkan royalti progresif dari komoditas timah. Selama ini royalti yang diterima hanya 3 persen saja. Dengan aturan baru maka royalti tersebut akan mengikuti harga timah yang berlaku.

Dalam suatu kesempatan saya pernah menyampaikan kepada RD agar segera saja melakukan mutasi para pejabat karena kekosongan jabatan atau yang kinerjanya memble serta tak sesuai harapan. Hal itu saya kemukakan kepadanya karena menurut saya berdasarkan pengalaman, masih banyak pejabat yang punya mental menunggu.

Maksudnya mereka hanya menunggu kalau ada perintah dan arahan barulah bekerja. Padahal setiap instansi sudah mempunyai tugas dan fungsinya masing-masing, serta memiliki target-target yang jelas. Namun yang terjadi biasanya kebanyakan pejabat menunggu bahkan menguji, apakah akan ada sanksi atau teguran bila mereka tidak mengerjakan apa yang sebenarnya jadi kewajiban mereka.

Bila tak muncul sanksi maka itu pertanda mereka bisa tidak melakukan apa yang sebenarnya menjadi tugas mereka. Lalu yang penting tinggal mengusahakan bagaimana supaya dapat menikmati perjalanan dinas seleluasa mungkin. Atas nama pekerjaan tentu saja.

Pejabat Model Paku

Saya ingat dulu pernah diceritakan oleh salah seorang senior waktu bertugas di Kabupaten Bangka. Jabatan terakhirnya di Bangka adalah sekretaris daerah. Amran Harun SH, CN namanya. Orangnya cerdas, disiplin, dan sangat menguasai persoalan yang dihadapi.

Baca Juga  Pj Gubernur Safrizal Targetkan Pengisian IKK LPPD Selesai Sebelum Batas Akhir

Mungkin ia merupakan orang pertama ketika itu yang bergelar S2 yang menjadi sekretaris daerah di Sumatera Selatan. Ia lulusan Fakultas Hukum UGM dan juga bergelar CN (Candidate Notaris). Menurut Amran Harun, kebanyakan pejabat kita itu bermental paku.

Baru bekerja dan punya inisiatif bila sudah dipukul dengan palu terlebih dahulu. Padahal kita sangat memerlukan pejabat yang bisa bekerja dengan baik atas inisiatif sendiri. Tak harus diingatkan apalagi ditegur dan diberi sanksi baru bekerja. Golongan pejabat bergaya paku inilah yang kemudian sering menyebabkan banyak pemerintahan terutama di daerah akhirnya berjalan seperti apa adanya.

Tak jelas arah dan tak pula paham tujuan. Akhirnya menjadi auto pilot. Mirip nyanyian Bimbo zaman baheula, bertelinga tapi tak mendengar, bermata tapi tak melihat.

Pejabat model paku seperti ini menurut mantan Gubernur Babel, Eko Maulana Ali, antara lain ditandai dengan rendahnya tanggung jawab. Hal yang paling mudah dipantau adalah soal ponsel. Biasanya pejabat dengan tipe ini akan sangat sulit dihubungi bila di luar jam kerja.

Ponsel dinonaktifkan dengan berbagai alasan. Padahal pemerintah zaman now itu bekerja hampir tanpa kenal waktu.  Anda boleh lihat bagaimana keluhan yang disampaikan oleh masyarakat di berbagai media sosial yang ada. Sepanjang hari dan tak mengenal waktu libur.

Baca Juga  Fenomena Penjualan Batik di TikTok: Strategi Digital dalam Menghidupkan Budaya Lokal

Bahkan terkadang justru semakin banyak keluhan ketika hari libur. Jadi, kalau masih ada pejabat yang tak bisa atau sulit sekali dihubungi oleh atasannya atau koleganya maka itu tanda-tandanya ia kurang bertanggung jawab.

Kembali ke usul saya agar para pejabat bisa dirotasi sesuai kebutuhan organisasi, sepertinya RD punya pendapat lain soal ini. “Yang pertama kata kuncinya bukan berani atau tidak berani, kata kuncinya adalah perlu atau tidak perlu, bermanfaat atau tidak bermanfaat, tepat atau tidak tepat,” ungkap RD.

Dalam suatu kesempatan diwawancara wartawan, RD juga berpendapat bahwa dirinya lebih tertarik menyoroti kaderisasi birokrasi kepada generasi muda yang kinerjanya lebih baik. “Tidak harus membeda-bedakan orang tua atau muda, senior atau junior, selama kinerjanya bagus dan memenuhi syarat, kenapa tidak kita pikirkan kesempatan buat mereka?” ungkapnya.

Salah satu tugas penting  seorang pemimpin adalah menyiapkan penggantinya. Persoalannya, kebanyakan pemimpin masa kini sengaja melupakan hal itu. Jabatan dipeluk erat-erat mirip anak kecil yang takut kehilangan balon. Buntutnya, kaderisasi jadi terabaikan.

Ingatkah kita pada keterlenaan panjang pada masa orde lama dan orde baru yang membiarkan Soekarno dan Soeharto seorang diri berkuasa dalam masa yang sangat panjang. Soeharto misalnya dibiarkan memimpin selama 32 tahun. Baru lengser ketika didesak untuk mundur atau dimundurkan.

Baca Juga  Pj Gubernur Babel Hadiri Buka Puasa Bersama Pj Wali Kota Pangkalpinang dan Anak Yatim

Fenomena umum memperlihatkan banyak pemimpin masa kini yang merasa jumawa tak tergantikan dan berusaha membesarkan dirinya sendiri. Walaupun kadang tak jelas juga apa prestasi bagus yang pernah dibuatnya. Seperti slogan lama di masa lalu, jangan sampai ada pohon lain yang tumbuh di bawah pohon utama. Karena dikhawatirkan dapat menggantikan dan mengalahkannya.

Tinta emas yang digurat RD di sepanjang karirnya sebagai seorang abdi negara saat ini memang seakan tercoreng dalam pusaran kasus blok Mandiodo. Terlepas dari cobaan yang harus ia hadapi, saya masih bersyukur, beliau tidak terbukti memperkaya dirinya sendiri dalam kasus itu. Dengan kelebihan dan kekurangannya, sebagai seorang pribadi, RD meninggalkan kesan positif yang mendalam bagi saya.

Kerendahan hatinya untuk belajar dan mendengar, berusaha memahami persoalan, serta keberanian ketika harus mengambil keputusan-keputusan penting dalam waktu yang kritis adalah beberapa yang mungkin bisa diteladani dari RD yang memang pernah dianugerahi penghargaan sebagai salah satu PNS berkinerja luar biasa serta Top Inovator.

Seperti kata pepatah lama, semakin tinggi pohon menjulang, semakin kencang angin akan menghempas. Semoga kita bisa memetik banyak pelajaran dari seorang RD. Salam Takzim.

Yan Megawandi, Ketua Asosiasi Tradisi Lisan dan Pemerhati Budaya Bangka Belitung