BANGKA SELATAN, TIMELINES.ID — SMA Negeri 3 Toboali menjadi salah satu sekolah yang terus mengedepankan sosial budaya lokal di tengah gempuran modernitas dan hegemoni kebarat-baratan.

Langkah anti mainstream ini diambil oleh SMA 3 sebagai upaya melestarikan budaya lokal setempat, yakni budaya melayu di Bangka Selatan.

Kepala SMAN 3 Toboali, Elya Rosda S.T. Mengungkapkan keseriusannya dalam menciptakan sekolah berbasis teknologi, sosial, dan budaya yang diharapkan menjadi role model SMA di Bangka Belitung.

“Perlunya dukungan sekolah dalam mengembangkan semua bidang ilmu, namun tetap juga melestarikan budaya lokal (melayu Bangka Selatan),” ucapnya.

Lebih lanjut ia mengungkapkan, “Kami (SMAN 3 Toboali-red) akan terus mendorong kegiatan yang menyangkut sosial kebudayaan melayu Bangka Selatan sekaligus mengintegrasikannya dengan teknologi terbarukan. ” pungkasnya.

Baca Juga  Dandim 0432 Beri Arahan kepada 16 Lulusan SPPI asal Bangka Selatan

Salah satu kegiatan yang semakin gencar dilakukan yakni menyelenggarakan diskusi-diskusi “berdaging” dengan topik urgensi dalam mempertahankan budaya melayu Bangka Selatan di tengah pesatnya perkembangan teknologi komunikasi.

Diskusi tersebut dilaksanakan pada momentum kegiatan MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) siswa baru SMAN 3 Toboali di hari ke 3 (Rabu, 17 Juli 2024).

Tidak main-main, pembicara dalam diskusi kali ini adalah Pamong Budaya Bangka Selatan, yakni Dwikki Ogi Dhaswara.

Ogi merupakan pamong budaya sekaligus penulis dan peneliti kebudayaan melayu asli Bangka Belitung, terkhusus Bangka Selatan.

Sepak terjangnya sudah tidak diragukan lagi. Banyak tulisan sudah diterbitkan, dan sudah banyak penelitian yang sudah ia lakukan.