Di Kelas MPLS, SMAN 3 Toboali Dorong Siswa Lestarikan Budaya Melayu Bangka Selatan
Pada kesempatan kali ini, Ogi sengaja diundang untuk memberikan ilmu dan me-recall kembali budaya-budaya asli Bangka Selatan yang lambat laun mulai pudar tergerus perkembangan zaman.
Banyak topik yang ia share ke peserta (siswa baru SMAN 3 Toboali), salah satunya yakni tentang beberapa warisan budaya Bangka Selatan baik Benda maupun tak benda.
Salah satu warisan budaya tak benda yakni tari gajah manunggang yang ditetapkan sebagai warisan budaya Bangka Selatan tahun 2016, kemudian untuk warisan budaya benda berupa Kalintang Kaki yang merupakan salah satu alat musik tradisional asli Bangka Selatan dan salah satu warisan budaya yang tercatat sebagai kekayaan intelektual komunal pada tahun 2023.
Ogi juga menjelaskan beberapa cagar budaya yang ada di Bangka Selatan salah satu cagar budaya yang masih ada hingga sekarang yakni Benteng Toboali, Rumah Dinas Controlleur, dll.
Ia juga berharap ada semacam kegiatan lanjutan yang bersifat studi lapangan, “Nanti coba kita atur waktu untuk mengunjungi salah satu situs yang ada di Bangka Selatan, supaya anak-anak mampu mengenal dan mendeskripsikan lebih detail.” ujarnya.
Dari kegiatan diskusi ini Ogi juga mengapresiasi SMAN 3 Toboali yang menjadi pelopor sekolah dalam mewadahi budaya melayu tetap lestari.
“Ini adalah satu-satunya SMA di Bangka Selatan yang menyisipkan materi kebudayaan Melayu dalam upaya melestarikan budaya lokal, dan kami sangat mengapresiasinya,” tambah Ogi diakhir diskusinya.
Kemudian Tri Prasetio selaku koordinator acara menjelaskan bahwa pada MPLS tahun 2024 SMAN 3 Toboali memang menekankan pada diskusi dan melestarikan budaya Melayu.
“Di hari terakhir ini kami mengundang pamong budaya Bangka Selatan dalam upaya menjadikan sekolah sebagai tempat budaya melayu tetap lestari,” jelasnya.
Lebih lanjut Tri sangat berharap langkah-langkah kecil ini mampu membuktikan bahwa budaya Melayu Bangka Selatan dapat lestari di tengah hegemoni kebarat-baratan. (Tri Prasetio)
