Terlalu banyak bernarasi di ruang publik tidak berarti membuat publik simpati dan mengeskalasi figur seorang pemimpin di hadapan masyarakat. Apalagi narasi itu terlalu berlebihan.

Justru narasi pemimpin yang berlebihan menjadi santapan khalayak ramai yang tercatat dalam otak publik. Jadi bahan candaan warga. Jadi cerita gurauan publik.

Dan narasi dari seorang pemimpin itu akan menjadi sebuah persoalan baru ketika narasi itu gagal terimplementasi dengan baik sesuai harapan publik.

Narasi yang terpublikasi dalam ruang publik dan belum dapat terealisasi dengan benar pada porsi yang sesuai dalam benak publik, membuat citra seorang pemimpin merosot.

Dan bukan tak mungkin pemimpin tersebut digelari omdo. Cuma bisa omong doang atau “kelakar gebeng”.

Baca Juga  Makaseh Pak Elfan

Seorang pemimpin yang baik, tentunya lebih baik banyak bekerja untuk kepentingan publik dibandingkan terlalu banyak bernarasi kepada khalayak ramai.

Terkhawatirkan bila terlalu banyak bernarasi akan membuat khalayak ramai jenuh dan menganggap narasi seorang pemimpin itu bagian dari pencitraan. Bahkan bisa dianggap sebagai “kelakar gebeng” yang bisa dianalogikan sebagai besar bicara semata.

Apalagi bila narasi yang terucap ke publik tak sesuai harapan publik yang berujung tentunya merugikan pemimpin itu sendiri. Publik menganggap narasi pemimpin hanya sekadar kelakar semata tidak sesuai dengan kenyataan.

Kepercayaan publik kepada pemimpin menjadi minus dan mendapat kepercayaan dari khalayak ramai itu sangat sulit, bahkan teramat sulit. Sejarah telah membuktikannya.

Baca Juga  Merdeka Belajar dan Mengajar dalam Semangat Pembaruan

Nah Lo…
Yo kita joget daripada kelakar gebeng.

Toboali, Agustus 2024

Rusmin Sopian, Penulis yang tinggal di Toboali, Bangka Selatan