Oleh: Rusmin Sopian

Narasi menjadi bagian penting dari seorang pemimpin untuk mengabarkan sesuatu persoalan ke ruang publik hingga dipahami publik secara utuh.

Seorang pemimpin sangat perlu pula bernarasi panjang lebar untuk menjelaskan suatu persoalan sehingga masalah menjadi jernih dihadapan warga masyarakat.

Namun tidak semua narasi harus disuarakan lewat suara pemimpin. Tak heran bila kini banyak pemimpin negara (baca: Presiden) menggunakan juru bicara (Jubir) sebagai pengejawantahan suara dirinya kepada publik.

Sementara untuk di tingkat daerah, para kepala dinas dan kepala badan tentu bisa menjadi bagian dari suara pemimpin kepada publik mengingat persoalan pada tingkat teknis, para kepala dinas/badan lebih menguasai persoalan dan permasalahan.

Baca Juga  Bagi THR dengan QRIS, Solusi Lebih Mudah dan Cepat!

Narasi seorang pemimpin itu sungguh bernilai tinggi. Bernutrisi tinggi. Setiap ucapannya menjadi terasa penting dan selalu diingat publik ramai.

Oleh karena itu seorang pemimpin tidak bisa mengumbar narasi seenak perutnya. Tidak bisa mengumbar “kelakar gebeng”, apalagi menyangkut hajat publik dan khalayak ramai.

Tak heran bila saat menjadi pemimpin, para pemimpin negara terasa sangat berhati-hati mengeluarkan narasi dan pandangannya. Bahkan terkadang pelit bernarasi.

Kondisi ini adalah sebuah upaya untuk menjaga kewibawaan seorang pemimpin di mata publik.

Apalagi menyangkut keberhasilan sebuah daerah di mana yang menjadi indikator keberhasilan pemerintah daerah adalah di antaranya kenaikan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), indeks pemerataan penghasilan, angka pengangguran rendah, dan angka kemiskinan rendah.

Baca Juga  Jangan Menghambakan Diri pada Jabatan

Fenomena ini memfaktakan kepada kita sebagai warga masyarakat, bahwa seorang pemimpin apakah pemimpin negara hingga pemimpin publik dalam lingkup tugas terkecil sekalipun, tak bisa berbicara “sekenek-kenek ” ( Seenak- enak) perutnya.

Semua itu untuk menjaga martabat dan kewibawaannya sebagai pemimpin di hadapan khalayak ramai.