“Sebenarnya kami ingin mengembalikan kearifan lokal ikonik kami pada lada Bangka Belitung. Tetapi kini banyak yang sudah lari. Lada hampir punah karena penyakit kuning yang tidak bisa disembuhkan. Padahal lada ini bisa menyerap tenaga kerja yang tidak sedikit. Kendala berada di penyakit. Saya, khawatir dengan kondisi Babel karena selalu import beras, banyak loss money hanya untuk beli beras saja. Masyarakat juga banyak tertipu soal pupuk asli tapi palsu ‘aspal’ yang bereda,” keluhnya.

Menanggapi perihal ini, DR. Ladyani Retno, Kepala sekaligus peneliti dari Balai Besar Pengujian Standar Instrumen Pengujian Sumber Daya Lahan Pertanian (BBSIP SDLP), Kementan R.I. membenarkan bila padi untuk ketahanan pangan di Babel masuk ke kategori merah.

Baca Juga  Penyidikan Tipikor Komoditas Timah Terus Bergulir, Kejagung Kembali Periksa 2 Orang Saksi

“Terkait lahan disana ada yang mengeluhkan kalau sawit nya tinggi langsung tumbang. Itu karena lapisan tanahnya dangkal dan ada batuan bumi yang dekat dibawahnya. Yang paling subur adalah tanah bagian atas. Ada pagi gogo dan ada padi sawah,” ucapnya.

Disarankan kombinasikan saja pertanian dan pariwisata menjadi agrowisata. Diharapkan juga ada FGD yang membahas ini dan kemudian dituangkan ke dalam ranah kebijakan.

Peternakan Ayam taliwang sangat mungkin untuk bisa dikembangkan untuk petani ternak di sana untuk mensupport kebutuhan gizi keluarga. Ayam taliwang itu umur 3 – 4 bulan sudah bertelur,” tutup nya.*