“Namun mereka merasa lebih berhak karena ponton itu mereka yang bawa. Kami menduga bahwa kelompok dari Airbelo yang tidak puas dengan kondisi tersebut akhirnya memilih jalur media untuk menyebarkan informasi yang kita anggap sebagai fitnah,” tambah dia.

Lebih lanjut, ia juga merasa dirugikan dengan tuduhan adanya pungli sebesar 15 persen yang dilayangkan beberapa media kepada mereka. Tuduhan itu, dia nilai tidak ada dasar dan pihaknya tak tahu dari mana angka fee 15 persen itu mencuat. Lagi pula, sejak pemberitaan itu dimuat pihaknya tidak pernah dikonfirmasi untuk keberimbangan berita.

“Tak ada sama sekali (konfirmasi, red) sejak berita itu diterbitkan. Tidak ada yang menghubungi saya. Saya sangat dirugikan, ada rencana (melaporkan) karena pencemaran nama baik. Akan kami bawa ke ranah hukum, untuk yang menaikkan berita itu,” ungkap Robi.

Baca Juga  Labkesda Babar Rampung Akhir Tahun, Uji Lab Tak Perlu Jauh ke Pangkalpinang

Ia juga mempertanyakan mengapa informasi yang tidak benar bisa sampai ke tangan media tersebut. Selain itu, tersebarnya perjanjian kesepakatan antara CV RMS dan panitia tambang di Selindung juga ia soroti. Mengapa hal ini bisa tersebar ke media dan dinilai tidak tepat.

“Sebenarnya ada dua CV yang bekerja di Selindung dari PT Timah Tbk yaitu CV RMS dan CV BBM. Namun sejak CV Pelangi Berkat, Torabika dan VBS masuk Selindung, kami minta hak kami, malah dikatakan orang sebagai pungli, merampas dari panitia Airbelo,” ujarnya.

Kata Robi, dari batas wilayah yang sebenarnya, aktivitas tambang tersebut memang berada di Selindung. Mereka bahkan pernah diajak seminggu dua kali mengukur batas wilayah. Dari awal bekerja, mereka sudah masuk wilayah Selindung meski pihaknya mencoba diam.

Baca Juga  Satu Bulan Buron, Dua Ninja Sawit Penjarah PT BPL Akhirnya Diringkus Tim Singo

“Tapi ketika seminggu belakangan ini kami minta hak malah dibilang merampas atau pungli. Jadi masalah ini berawal dari ketidakpuasan oknum panitia Air Belo terkait pembagian kompensasi. Sebenarnya, soal kompensasi ini bekerja di Selindung, tapi mereka tetap mau masuk ke Air Belo juga. Mereka memasang batas sepihak, tapi kenyataannya ponton itu bekerja di Selindung,” ungkapnya.