“Ya, Ummi juga tahunya khap khap, haphap, Ngapngap.” kata Ummi ketawa ngikil.

“Gak gitu juga kali, Mi. Mana ada khapkhap, haphap, ngapngap.” tanggap Ahsan.

“Saking pendengarannya, wkwkwk.”

“Yaudah, gak boleh ngomongin bahasa orang, lah bahasa Bangka aja aku gak tahu. Gimana logat kayak orang-orang Pulau itu ngomong.”

“Makanya, belajar ngomong Pulau, hihi, Ummi juga gak bisa logatnya.”

“Mi, aku kalok ngomong dibilang busyet, Elo Indonesia Banget.”

“Sekali-kali ngomonglah bahasa Bangka.”

“Kaku, Mi, khapkhap, haphap, ngapngap. Cengap-cengap.”

Begitulah percakapan Emak dan anaknya. Dari bahasa Thailand ke bahasa Pulau Besar. Karena lama di luar Bangka, ditunjang hidup di daerah yang hampir seluruhnya berbahasa Indonesia, maka bahasa Melayu Bangka terasa kaku diucapkan di lidah.

Baca Juga  Janji untuk Ayah

Apalagi Bahasa Bangka Selatan yang logatnya sangat susah untuk ditiru. Meski lama di Bangka Selatan, tetap saja logat itu menjadi sulit. Peribahasa “Ala bisa karena biasa”, sepertinya tak berlaku untuk logat seseorang.