Oleh: Putri Simba

Pagi itu, udara begitu sejuk. Langit tampak pucat, dan embun masih menggantung di dedaunan. Sinar matahari perlahan merambat masuk melalui celah tirai kamar, menyinari dinding yang diam. Di balik pintu yang tertutup rapat, terdengar isakan lirih. Dinda duduk memeluk lutut di sudut ranjang, wajahnya tertunduk, matanya sembab.

“Jadi begini rasanya… ditinggalkan orang yang paling aku sayangi,” bisiknya pelan, seakan takut didengar dunia.

Air matanya jatuh perlahan, membasahi lantai dingin. Ada rasa sesak yang sulit dijelaskan. Hari ini tepatnya tanggal 12 Juni 2025, ayah akan pergi pulang ke kampung halaman, meninggalkannya sendiri di kota rantauan untuk bekerja dan belajar demi masa depan. Meski bukan perpisahan untuk selamanya, tapi hatinya seperti retak dalam diam.

Baca Juga  Silat Gaib Penguasa Hutan Lalang Tunu

Dinda beranjak dari tempat tidur, menatap wajahnya di cermin yang buram oleh embun. Cepat-cepat dia menyeka air mata dengan ujung kerudung, mencoba tampak biasa saja. Lalu ia melangkah ke dapur, membuatkan secangkir kopi hangat, seperti yang biasa dilakukannya setiap pagi untuk ayah tercinta

Beberapa menit kemudian, dia membawa kopi itu ke ruang tamu.

“Ayah … ini kopinya,” ujarnya lirih, suaranya bergetar.

Sang ayah menoleh. Matanya menatap wajah putrinya yang sembab, lalu tersenyum hangat, walau ada kesedihan yang berusaha dia sembunyikan.

“Iya, Nak, terima kasih, ya,” sahutnya pelan. Tangannya yang kasar menggenggam cangkir, mencoba menenangkan diri.

Saat menyeruput kopi perlahan, sang ayah menepuk tempat duduk di sampingnya. Dinda mendekat, duduk pelan, lalu menggenggam tangan ayahnya erat-erat. Suasana hening. Hanya detik jam dinding yang terdengar.

Baca Juga  Saat Doa Menaklukkan Penolakan: Jalanku Menuju Unmuh Babel

“Nak …,” ucap sang ayah, memecah keheningan. Suaranya pelan, tetapi penuh makna, “hari ini Ayah pamit pulang dulu, kembali ke kampung halaman kita. Di sini, kamu jaga diri baik-baik ya. Dengarkan bibikmu, jangan banyak membantah. Kerja yang semangat, belajar yang tekun. Ayah percaya kamu bisa. Ayah dan Ibu selalu doain kamu tiap hari.”