Dinda menunduk, berusaha menahan air mata. Tapi kata-kata itu menampar hatinya. Ia langsung memeluk ayahnya erat-erat, tubuhnya bergetar menahan tangis.

“Iya, Ayah … aku janji,” ucapnya di sela isak tangis, “Aku akan kerja keras di sini. Aku akan terus belajar. Aku akan wujudkan semua mimpi Ayah dan Ibu. Aku ingin kalian bangga walaupun aku harus sendiri.”

Pelukan itu lama. Takada yang ingin melepas lebih dulu. Namun, waktu terus berjalan dan sang Ayah harus pergi. Dengan koper kecil di tangan dan tas ransel di punggung, ayah melangkah keluar rumah. Dinda mengiringi sampai halaman depan.

Sebelum masuk ke dalam mobil yang menjemput, ayah kembali menatap putrinya.

Baca Juga  Puisi untuk Ibu

“Jangan menangis ya, Nak. Ayah gak suka lihat kamu sedih. Ayah pergi karena yakin kamu kuat.”

Dinda hanya mengangguk pelan, meski matanya takbisa lagi menahan air mata. Ia berdiri mematung, melihat mobil itu melaju perlahan hingga menghilang di tikungan jalan. Dan saat bayangan ayahnya benar-benar tak terlihat, air matanya tumpah tanpa bisa dibendung.

Ia kembali masuk rumah dengan langkah kakinya, menutup pintu kamar, lalu menjatuhkan diri ke atas kasur. Tangisnya pecah, seperti hujan yang lama tertahan di langit malam. Ia menangis dalam diam, menggigit bantal agar suaranya tak terdengar oleh siapapun.

Di tengah tangis yang memilukan, ia menatap langit-langit kamar dan berbisik,

Baca Juga  Nasihat Mulia sang Guru

“Ya Allah… kuatkan aku. Aku janji akan wujudkan semua impian Ayah dan Ibu. Walau tanpa mereka di sini… aku akan bertahan.”

Hari-hari setelah itu terasa hampa, tapi di dalam hatinya, Dinda menyimpan janji suci. Janji seorang anak kepada Ayah dan ibunya… bahwa dia tak akan menyerah. Bahwa air matanya hari ini, akan menjadi saksi lahirnya kekuatan besar dalam dirinya.

Blitang, 12 Juni 2025