Petualangan Mendaki Puncak Dempo (Bumi Sriwijaya)
Akhirnya, Erikson memutuskan untuk melakukan pemungutan suara. Dari 15 pendaki, 13 memilih mengikuti Erikson ke arah kiri, sedangkan hanya Tunku dan seorang pendaki lainnya yang memilih kanan.
Mereka akhirnya melanjutkan perjalanan ke arah kiri. Namun, belum terlalu jauh dari persimpangan, cuaca mulai berubah drastis. Kabut tebal mulai turun dengan cepat, dan menutupi jalur pendakian hingga jarak pandang hanya satu meter.
Suasana yang sebelumnya penuh semangat berubah menjadi mencekam. Kabut tebal membuat pendaki semakin waspada, terutama saat langkah mereka semakin sulit dan kondisi jalur pendakian yang licin.
Di tengah situasi tersebut, mereka bertemu dengan seorang warga setempat yang kebetulan sedang menuruni gunung. Pria tua itu memperingatkan mereka dengan nada cemas. “Kalian harus segera turun! Jalan yang kalian ambil salah. Kabut tebal ini bisa membuat kalian tersesat lebih dalam. Ayo, turun sekarang sebelum semuanya menjadi lebih buruk!”
Wajah Erikson memucat. Ia segera menyadari bahwa keputusan untuk mengambil jalan kiri adalah kesalahan. Seluruh rombongan, yang kini mulai cemas, segera memutar arah dan turun sesuai dengan saran pria tua itu.
Namun, perjalanan turun tak semudah yang mereka bayangkan. Kabut turun sangat cepat dan semakin tebal, di tambah dengan kondisi jalan yang licin membuat langkah mereka lebih hati-hati.
Di tengah perjalanan, seorang mahasiswi cantik bernama Diah Pitaloka, yang sebelumnya penuh semangat, tak mampu menahan ketakutannya. Dalam kondisi panik, dia tiba-tiba pipis di celana. Wajahnya memerah malu, dan mentalnya runtuh. Ia mulai menangis ketakutan, membuat beberapa pendaki lain berusaha menenangkannya.
Sementara itu, Tunku Singalangit hanya bisa menghela napas panjang. Ia tahu sejak awal bahwa mereka salah mengambil jalur, tetapi saat itu ia tak punya pilihan selain mengikuti mayoritas. Kini, yang terpenting adalah memastikan semuanya selamat.
Setelah beberapa jam yang penuh kecemasan, mereka akhirnya sampai di tempat yang lebih aman. Di sana, mereka disambut oleh seorang pria tua berpakaian serba putih dengan wajah penuh wibawa. Ia memperkenalkan diri sebagai Raden Sahid, juru kunci Gunung Dempo.
“Kalian beruntung bisa selamat,” katanya dengan suara tenang namun tegas. “Tapi ingat, pendakian bukan hanya soal fisik, tetapi juga tentang menghormati aturan dan adat yang ada. Kalian sudah melakukan kesalahan besar dengan tidak meminta izin sebelum mendaki. Kekauatan alam menjaga gunung ini, dan kalian harus menghormatinya.”
Seluruh rombongan terdiam mendengar teguran Raden Sahid. Mereka sadar bahwa pendakian ini tanpa persiapan yang matang dan tanpa menghormati adat setempat. Erikson, sebagai pemimpin, merasa sangat bersalah.
“Kami minta maaf, Pak,” katanya dengan nada penuh penyesalan. “Kami tidak tahu bahwa kami harus meminta izin sebelum mendaki.” Raden Sahid tersenyum tipis. “Tidak apa-apa. Yang penting kalian selamat dan ambil hikmah dari kesalahan ini. Gunung ini tidak hanya membutuhkan kekuatan fisik, tetapi juga rasa hormat terhadap alam dan adat yang mengelilinginya.”
Setelah menerima nasihat bijak dari Raden Sahid, rombongan mahasiswa itu merasa lega dan bahagia karena mendapat pelajaran yang berharga dan penuh mengandung hikmah yang mendalam serta mereka tidak lupa juga mengucapkan kalimat syukur kepala Tuhan yang maha kuasa, karena masih selamat dari semua bahaya.
Pendakian kali ini mengajarkan mereka bahwa dalam menjelajahi alam, tidak cukup hanya bermodal semangat, tetapi juga kebijaksanaan, kehati-hatian, dan penghormatan terhadap kekuatan alam.
