Tiba-tiba dia memanggilku, “Juwi, nanti kita ngobrol lagi, ya. Wajib!” teriaknya yang ditingkahi suara cie cie dari para lelaki yang mengelilinginya. Aku terus saja berlalu, jangan sampai dia mengambil darahku lagi. Sepertinya ada isyarat tangannya agar aku tidak mengatakan apa pun pada siapa pun. Aku gak mau bertemu drakula itu lagi. Biarpun ganteng, mengerikan. Dia minum darah! Aku sampai di kelasku, kemudian sirene masuk berbunyi.

Hari ini aku pulang sendiri, sengaja. Kepikiran dengan kata wajib dari Emir. Tiba-tiba makhluk itu sudah ada di sampingku. Dia minta maaf, bercerita kalau keanehannya semenjak pulang mendaki gunung 2 tahun lalu. Dulu dia tak begini. Sekarang harus minum darah satu ampul untuk sehat sepekan. Tolong Rahasiakan, katanya. Menurut petunjuk orang yang mengobatinya, aku adalah obatnya. Bagaimana jadi obatnya? Masak harus minum darahku tiap pekan? Allahu Akbar!!!

Baca Juga  Serial Drakula Zaman Now: Kau Apakan Aku, Emir