Serlok dikirimkan agar aku bisa menjangkau tempat Emir berada. Berpedoman google map, aku mencari keberadaan bocah drakula itu. Entahlah, aku koq, jadi terus menerus terhipnotis. Mengikuti kehendaknya. Heran, kenapa takada yang tahu tentang kelakuannya. Aku menyusuri taman mengikuti arah tanda panah biru yang menuntunku ke sana, sebuah tempat terlindung di tepi jurang. Menyeramkan. Emir terlihat begitu putih di balik rimbun pepohonan taman. Entah ke mana darahnya. Dari mulutnya terdengar kata-kata, “Tolong aku.”

Aku takdapat darah yang diinginkan, aku belum tahu juga bagaimana cara lain menolongnya mendapatkan darah. Darah ayam dia gak mau, maunya cuma darah manusia yang sama dengan golongan darahnya. Baru aku seorang yang sama. Aku panik karena selain begitu putih, kesadarannya hampir hilang. Dengan hampir menangis, akhirnya aku menyuruh Emir menyedot darahku lagi, satu ampul, dia meminumnya. Ajaib, langsung segar kembali, sedangkan aku setengah pingsan. Ya Allah, ampuni aku.

Baca Juga  Aku Sang Pujangga dari Desa, Nona