“Aku masih berusaha untuk menjauh dari kapal karena kapal itu terus terbalik. Dan rakit-rakit dari sisi atas kapal akan berjatuhan. Rakit-rakit itu belum terlempar, sebagaimana mestinya, dan aku melihat rakit-rakit itu mulai berjatuhan,” ungkap Wilma.

“Aku menundukkan kepala. Aku sudah melepas helmku sebelumnya dan rakit menghantam kepalaku. Dan ketika aku naik, rakit lain menabrakku. Aku pikir ada enam rakit sekaligus, satu persatu, rakit-rakit itu menghantam kepala aku dan terus mendorong aku ke bawah,” ujar Wilma Oram.

Elizabeth Simons menulis dalam bukunya “While History Passed” bahwa dia sedang berbaring di geladak bawah. Kepalanya bersandar di atas helm sebagai bantal, terapit di antara
tubuh yang lain. Ia mencoba membaca buku “Cactus” untuk mengalihkan pikirannya dari kecemasan saat pesawat Jepang menyerang.

“Jelas sekali bagi semua orang secara bersamaan bahwa dek kapal bagian bawah yang tenggelam sangat mirip penjara,” kata J. Elizabeth.

Lengannya terkena pecahan peluru yang beterbangan tetapi ia tidak sempat memeriksa lukanya sampai beberapa saat kemudian seseorang membalut lukanya.

“Kepingan baja itu masih berada dalam tanganku sebagai cinderamata dari peristiwa itu,” katanya.

Baca Juga  Denting Dambus di “Depati Amir”

Aku meraih tali yang tergantung di luar, melepas sepatuku dan meluncur dengan cepat ke dalam air. Begitu cepat sehingga semua kulit dari telapak tanganku terbakar, meskipun dalam kegaduhan aku benar-benar tidak menyadari kerugiannya sampai nanti.

“Aku terdorong keluar dari kapal dan dapat melihat beberapa sekoci berhasil diluncurkan. Tetapi beberapa sekoci bocor parah sehingga para penumpang mendayungnya dengan panik. Kami
berkumpul secara massal di air. Awalnya sangat menyenangkan,” ujar dia.

“Sebuah kesenangan, sebenarnya, dapat berenang di air dingin. Kami belum mandi selama beberapa lama dan bahkan mencuci ala kadarnya yang tidak mungkin dilakukan di kapal,” tambah dia.

Jenny Greer (Perawat Angkatan Darat Australia) mulai bernyanyi saat itu.

“Kami berangkat menemui Sang
Penyihir dan para gadis bergabung dengannya saat mereka berhasil menuju sepotong balok
tempat ia berpegang,” terangnya.

Elizabeth Simons menaiki sebuah rakit dengan dua pelaut Inggris dan seorang operator radio keturunan Indo-Eropa.
Elizabeth Simons kemudian melanjutkan pernyataan.

Sesaat Pat Gunther dan Winnie May Davis (Perawat Angkatan Darat Australia) tersapu oleh ombak dan Simons memberi tempat di rakit untuk Gunther dengan menyelinap ke dalam air di tempatnya berada karena Gunther tidak bisa berenang.

Baca Juga  Satpolairud Polres Babar Bantu Keringkan Rumah Warga Terdampak Banjir Rob di Mentok

“Stan (seorang pelaut Inggris), Win dan aku bergiliran beristirahat di rakit dan, di sela istirahat, kami berpegangan erat pada tali di sisi-sisinya,” ungkap Simons.

Pelaut lainnya terluka bakar sangat parah dan nyaris telanjang di bawah terik matahari sehingga Simons melepas seragamnya dan menutupinya dengan seragam. Win Davis menemukan kotak P3K di kantong seragam miliknya dan memberikan suntikan morfin kepadanya.

Mereka bergabung dengan seorang ibu dan anak perempuannya yang juga
berpegangan pada rakit.

Pada malam hari, pelaut yang terluka bakar itu terpeleset jatuh dan hilang. Pada malam yang sama, mereka dikelilingi oleh armada kapal penyerbu milik Jepang yang mengabaikan teriakan permintaan tolong mereka.

“Aku ingat saat diangkat jadi aku bisa mengistirahatkan bagian atas tubuhku di atas rakit untuk melepaskan ketegangan tangan dan lenganku. Dengan posisi itu, aku benar-benar
tertidur!” kata Simons.

Mereka melihat cahaya suar di Pantai Radji tetapi sayangnya arus tidak
memungkinkan mereka untuk mendarat di sana. Ketika siang tiba, mereka betul-betul sadar sedang berada di tengah penyerbuan Sumatera dan kelak, lelucon kamp tahanan perang.

Baca Juga  Rumah Tua Berusia 130 Tahun di Desa Ranggung Direkomendasi sebagai Rumah Adat Bangka Selatan

“Meskipun kami benar-benar sampai
di Sumatra, sayangnya Pasukan Jepang berjumlah sangat besar,” Simons menambahkan.

Akhirnya mereka berhasil dihentikan pasukan Jepang yang membawa para wanita ke atas kapal. Dan menyeret para laki-laki di atas rakit dari belakang hingga mereka mencapai pantai. Para Jepang “penyelamat” mereka ternyata manusiawi, melindungi mereka dari kemungkinan dibunuh di pantai di
tangan petugas yang kurang bersimpati, dan memberi mereka minum.

Jessie Blanch (Perawat AD Australia), mungkin adalah orang terakhir yang meninggalkan Vyner Brooke saat kapal berguling ke sisi kanannya. Dan mulai tenggelam dengan membungkuk terlebih dahulu. Ia sempat mengenang saat kejadian itu.

“Kapten kapal hebat. Dia berzig-zag. Mereka datang dan mengebom kami, dan meleset. Kapal itu sangat kecil. Mereka kembali dan konon mereka menjatuhkan 27 bom. Dan akhirnya 1 bom menghantam kami,” ungkap Jessie Blanch. (Bersambung)

Sumber: ayokebangkabarat.com