Dapat ditebak, banyak penumpang panik, anak-anak muda bertengkar dengan orang tua untuk melarikan diri dari geladak bawah. Perawat Australia berusaha memulihkan dan menolong situasi di kapal, sementara kru berjuang untuk membersihkan sekoci.

Terlepas dari muatan yang banyak, tiga sekoci diturunkan dengan peralatan lengkap masing-masingnya. Dan dua di antaranya mulus berada di sisi kapal. Yang ketiga, terjerat oleh peralatannya sendiri dan terseret ke bawah bersama kapal ketika kapal tenggelam.

Sejak pesawat pengebom Jepang pertama kali menyerang, sampai Vyner Brooke menghilang ke bawah gelombang, hanya membutuhkan waktu selama 15 menit. Kapal yang tenggelam itu meninggalkan dua sekoci yang penuh sesak.

Beberapa rakit kecil, dan puing-puing di laut di mana lebih dari 100 orang yang selamat dan ketakutan menggelantung. Banyak dari mereka terluka atau menderita luka bakar parah. Kemudian pesawat-pesawat itu kembali lagi, kali ini menyemburkan peluru dengan tembakan senapan mesin.

Makin banyak mayat bergabung dengan mereka yang sudah mengambang di air. Dan pembantaian yang menyedihkan ini dilakukan oleh armada invasi Jepang dengan
meluncurkan pasukan bersenjata lengkap terhadap sekelompok orang yang tak berdaya.

Jepang mengabaikan tangisan minta tolong mereka yang masih hidup di air. Pasukan Jepang memiliki pekerjaan yang lebih mendesak. Tenggelamnya Vyner Brooke bertepatan dengan
invasi Jepang ke Pulau Bangka.

Baca Juga  Golkar Kabupaten Bangka Tegas Inginkan 7 Dapil di Pemilu 2024

Berdasarkan laporan resmi yang sangat singkat oleh Kapten “SS Vyner Brooke”, kronologi perjalanan terakhir kapal adalah:

Kamis 12 Februari 1942: 20:00 – Meninggalkan Singapura.
24:00 – Memasuki Selat Durian dan lanjut hingga siang hari.

Jumat 13 Februari 1942:
08:00 – Berlabuh di teluk kecil di pulau lepas Lanka Island.
09:00 – Pesawat musuh memutari kapal, tidak ada serangan.
11:10 – Pesawat musuh memutari kapal, tidak ada serangan.
11:30 – Angkat sauh dan lanjut ke Kanal Lima, dekat dengan pantai Lanka Island.
15:00 – Kapal dikitari oleh tiga pesawat musuh, tidak ada serangan. Pesawat menuju utara.

Sabtu 14 Februari 1942:
01:30 – Berlabuh di Pulau Tujuh.
06:00 – Sebuah pesawat memberi sinyal, tetapi tidak dapat memahami sinyal; kemudian pesawat pembawa senapan mesin itu terbang ke selatan.
09:00 – Pesawat musuh mengitari kapal, tetapi tidak ada serangan.
10:00 – Mengangkat sauh dan lanjut menuju Selat Bangka.
13:00 – Diserang oleh sembilan pesawat musuh. Kapal berkecepatan penuh dan berusaha
terus menerus menghindari bom. Dek bawah terkena bom pesawat.
13:20 – Memerintahkan untuk meninggalkan kapal. Mesin berhenti. Kapten mengarahkan penumpang ke sisi kanan kapal. Sekoci-sekoci semua rusak parah.
13:40- Kapal miring ke sisi kanan, tersisa dari bawah ke atas selama sekitar dua menit, dan akhirnya tenggelam. Saat serangan, meriam Lewis dan meriam 4 inci sedang beraksi. Posisi kapal 8 derajat ke utara Mercusuar Muntok saat tenggelam.

Baca Juga  Dibesarkan Kakek dan Paman, Sebuah Kolaborasi Pengasuhan

*Kesaksian dari yang Selamat

Wilma Oram, salah satu Perawat Angkatan Darat Australia yang menjadi penumpang, melaporkan pada saat itu

“Pesawat-pesawat Jepang datang dan mengebom kami. Mereka mengebom kami pada jam 2 siang. Kami turun ke geladak bawah untuk berlindung,” ujarnya.

Dan di sisi tempat Mona (Mona Wilton, sahabatnya saat mendaftar di Perawat Angkatan Darat Australia) dan aku, tempat kami berbaring menelungkup, dan di sisi itu meledak menyeruak dari kapal. Pecahan kaca menyembur ke seluruh tubuh kami, kupikir kakiku telah terputus.

Tetapi ketika aku melihatnya hanya tersayat oleh kaca terbang. Tetapi salah satu dari perawat kami terluka
parah. Dia memiliki luka yang sangat parah di bokongnya. Kami membawanya naik tangga ke geladak dan membalut lukanya. Lalu kami harus meninggalkan kapal.

“Keadaan penumpang sangat kacau. Jadi kami menempatkan perawat-perawat yang terluka di
samping, menuruni tangga ke sekoci, dan mereka berhasil lolos,” kata Wilma Oram.

Baca Juga  Simpan Sabu dalam Bra, Ibu Muda dan sang Suami di Mentok Dibekuk

Lalu Mona dan aku lari ke samping dan turun melalui tangga ke sekoci. Jean Ashton berada di sekoci. Tetapi kapal itu berbalik sangat cepat. Sekoci penuh dengan wanita dan anak-anak. Kapal itu segera tenggelam. Jadi kami harus melompat ke luar dari sekoci.

Kami tidak bisa menghindar dari kapal. Tidak cukup cepat. Jadi Mona dan aku melompat keluar. Semua orang akan menyelamatkan diri mereka sendiri
pada saat itu. Dan Mona sempat berkata.

“Aku tidak bisa berenang,” kata Mona.

Dia memakai pelampung, jadi aku berkata kepadanya.

“Berenang gaya anjing saja,” timpal Wilma Oram.

Kami berdua sejajar dengan kapal dan berusaha menjauh karena kapal itu akan terbalik ke arah kami. Jadi berenang gaya anjing yang kami
lakukan. Tapi kapal itu terbalik ke arah kami, dan aku berkata kepada Mona.

“Kapal itu akan roboh. Sepertinya kita akan tenggelam kali ini. Kita tidak akan selamat dari ini,” sebut Wilma.

Aku mengangkat tangan dan menangkap pagar kapal dan melewati pagar. Ketika aku muncul lagi, tidak ada tanda-tanda Mona. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya, aku kira kapal roboh menimpanya dan dia tidak bisa menghindarinya. Aku tidak pernah melihatnya lagi.