Jauh sebelum wisata pantai berkembang di daerah Bangka Belitung, pantai Batu Kodok yang terletak di belakang Wasrey Tanjung Ketapang itu telah menjadi tempat wisata pantai bukan hanya bagi warga sekitar Toboali, namun dari luar kota.

Saat penulis masih Sekolah Menengah Pertama ( SMP), sekitar tahun 80-an, sering kali melihat mobil Pownis parkir di areal Wasrey pada saat hari Minggu dan hari libur. Membawa rombongan untuk berwisata ke Batu Kodok.

Tak terasa hari ini, Kota Toboali sudah memasuki usia ke -316 tahun. Sudah terlalu banyak yang diberikan kota yang sering disebut sebagai Habang ini kepada kita sebagai warga yang menghuninya dan berkehidupan di sini.

Baca Juga  Dinsos P3A Basel Pulangkan Seorang Gepeng asal Muara Enim

Toboali adalah ‘Hun Plaben” kita mengutip narasi Pamong budaya Bangka Selatan. Tempat besar bagi kita. Rumah kita sebagaimana lirik lagu dari grup rock legenda God Bless.

Kota Toboali mengajarkan kita tentang semangat kegotongroyongan yang merupakan roh kehidupan bangsa ini.
Toboali mengajarkan kita tentang semangat toleransi dalam berkehidupan.

Sudah selayaknya kita sebagai warga mengucapkan terima kasih kepada Kota Toboali. Kota yang terkenal dengan bumbu masakan Belacan Habang warisan budaya tak benda yang kini sudah diakui Kemdikbudristek.

Dan tentunya dengan menjaga Kota Toboali dengan segala warisan budaya yang ditinggalkannya sebagai simbol peradaban masa lampau yang harus terpelihara dengan baik untuk memajukan peradaban masa depan daerah ini.

Baca Juga  Angka Kemiskinan di Bangka Selatan Naik 4,17 Persen, Pengangguran Juga Meningkat

Tiba-tiba teringat dengan Suhaili Toha, Jailani Akin, Homsiah, Depati A. Rawi, Bakri Jais, Umar Matali, Azhar Djais, Usman Samin dan sederet nama lainnya yang tidak bisa ditulis satu per satu.

Makaseh Toboali.
Kami bangga denganmu.
Kami pun “tau reti” kepadamu.

Toboali, 25 Oktober 2024

Rusmin Sopian, penulis yang tinggal di Toboali