Tragedi SS Vyner Brooke, Perang Dunia II di Mentok (Bagian IV)
Tepat di atas corong, para lelaki turun di ruang mesin yang terbakar sangat parah. Lalu kami diperintahkan untuk meninggalkan kapal. Tidak ada kesulitan, tidak ada kekhawatiran, karena Matron Olive Paschke (Perawat AD Australia) telah memberi kami latihan sekoci.
Dia adalah wanita yang luar biasa, dan kami hanya tahu di mana harus turun. Kami hanya memiliki 2 atau 3 sekoci. Jadi mereka yang bisa berenang harus berenang dan mereka yang terluka harus masuk ke sekoci.
Mayoritas Perawat Angkatan Darat Australia, 65 dari kami, bisa berenang.
Rekreasi utama kami di Singapura adalah berenang, karena di sana sangat panas. Lagi pula, kami semua tahu apa yang harus kami lakukan. Aku punya satu tas perban. Perawat lain memiliki jarum suntik dengan morfin. Beberapa dari kami memiliki barang-barang yang berbeda.
Kami menuju ke kapal untuk merawat yang terluka. Dan tidak ada suara. Kami tahu ke mana kami akan pergi, kami tidak harus berteriak memanggil di antara kami. Aku adalah salah satu orang yang terakhir turun. Kami semua melepas sepatu kecuali satu perawat.
Aku ingat melepas sepatuku dan meletakkannya dengan rapi di geladak. Aku menengadah dan ada dua temanku di laut. Pada saat itu kapal telah berada dalam posisi yang salah. Aku naik ke atas dan mereka berteriak kepadaku.
“Lompat, Blanchie, lompat!” kata Jessie Blanch menirukan suara mereka.
Dan, aku melompat dan aku pikir aku tidak pernah muncul lagi. Saat itu terasa sangat lama. Pokoknya aku bergabung dengan kedua gadis itu dan kami melihat kapal itu berguling
beberapa menit kemudian.
Cukup banyak puing yang mengambang. Dan datanglah sepotong rel kapal. Potongannya cukup besar. Dan kami mengenakan rompi pelampung. Dan jika kau tidak berenang sedikit saja, kamu akan terbalik olehnya.
Mengerikan. Dan bagi mereka yang tidak bisa berenang, tentu saja mereka tenggelam.
Pada saat itu kami bertiga, dan kemudian kami menjemput dua perawat lain, dan dengan meletakkan tangan kami di papan kami bisa tetap bersama. Berenang dengan satu tangan dan menendang.
Kami jadi berlima. Jenny Greer, Beryl Woodbridge, Flo Trotter, Joyce Tweddell dan aku. Dan ketika kami masuk ke dalam arus, kami tersapu dengan cepat dan Jenny mulai bernyanyi.
“Kami berangkat menemui Sang Penyihir,” kata Blanch.
Dan kami ikut bergabung. Sangat mengejutkan. Kapten berada dalam arus yang berbeda dengan kami, yang kelak akan ditawan di Sumatera dan pulang ke rumah. Dan dia berkata.
“Ada beberapa Perawat Australia
di kapalku, tetapi aku tidak tahu berapa banyak dan apa yang terjadi pada mereka, tetapi mereka menyanyikan lagu,” ujar Kapten Borton.
“Kita berangkat menemui Sang Penyihir,” katanya.
“Orang-orang kami (di rumah) tidak mempercayainya. Bagaimanapun, itu sungguh terjadi,” Kapten Borton menambahkan.
Saat itu jam 2 lewat 25 menit sesuai dengan jam tanganku. Lalu semua puing, dan orang[1]-orang, dan rakit-rakit menghilang. Hanya satu sekoci yang mengambang, dan ada orang terluka di dalamnya. Jenny yang memiliki arloji tahan air dan arlojinya terus berjalan: jam 6, jam 7.
Malam telah lewat, kami sangat kedinginan dan salah satu perempuan mengalami kejang dan tidak bisa berenang. Dan dia tidak ingin bertahan dan kami menyemangatinya agar kuat. Aku sangat kuat, dan Tweedie adalah orang lain yang merupakan perenang yang sangat kuat.
Kami berada di bagian depan papan. Kami terus menyemangati perempuan itu, agar lebih tegar,
“Kau akan baik-baik saja, kita akan segera ke darat, atau seseorang akan menjemput kita,” ujar Jessie Blanch.
Bagaimanapun malam tiba. Dini hari kami pikir kami melihat sebuah tebing besar. Tapi itu bukan tebing, itu adalah kapal perang besar. Kami menyadari bahwa itu adalah Jepang, dan mereka memandang ke laut, melihat-lihat dan hanya tertawa.
Lagi pula kami tidak peduli, kami tidak ingin mereka yang menjemput kami. Sewaktu dini hari, kami bisa melihat sebuah mercusuar. Mereka menyalakan api, dan kami bisa melihat dari sinar api itu beberapa perawat kami. Berseragam. Cukup banyak yang mendarat di sana, termasuk beberapa di antaranya yang terluka, mereka yang berada di sekoci.
