Berbuah Banyak tapi Tidak Menghasilkan
Oleh: Sutiono
Di sebuah desa yang subur dan dikelilingi perbukitan yang ditumbuhi perpohonan tertata rapi. Desa tersebut Bernama Bukit Lestari Indah, di balik desa yang indah tersebut, ada sebuah kebun buah milik Pak Kuncoro Kencana, seorang petani tua yang sudah menghabiskan hampir seluruh hidupnya bercocok tanam.
Kebun buah itu merupakan kebun warisan keluarga yang selalu dirawatnya dengan sepenuh hati. Pak Kuncoro Kencana terkenal sebagai petani yang rajin dan pantang menyerah, bahkan ketika pohon-pohon di kebunnya mulai menunjukkan tanda-tanda layu, ia tetap berusaha mencari cara agar tanaman-tanamannya berbuah lebat.
Suatu pagi, di bawah sinar matahari yang hangat, Pak Kuncoro Kencana berdiri di tengah-tengah kebun mangganya. Pohon-pohon mangga itu terlihat rimbun, dipenuhi buah yang tampak menggantung di dahan-dahan kuatnya. Tetapi, semakin diperhatikan, semakin jelas terlihat bahwa buah-buah mangga itu tidak seperti yang diharapkannya. Mereka kecil, pucat, dan mulai rontok sebelum sempat matang dengan sempurna.
“Mengapa terjadi seperti ini lagi, ya Allah?” gumam Pak Kun dengan nada kecewa sambil menyeka peluh di dahinya. Pohon mangga yang ia rawat dengan penuh kasih sayang itu seolah-olah enggan memberikan hasil yang layak untuk segala jerih payahnya.
Pak Kuncoro Kencana telah mengorbankan banyak waktu dan tenaga untuk merawat pohon itu dengan pupuk terbaik, air yang cukup, dan perlindungan dari hama, namun pohon itu tetap saja berbuah tetapi tidak menghasilkan seperti yang ia harapkan.
Kabar burung tentang kegagalan kebunnya pun tersebar di antara para tetangga. “Percuma saja, Pak Kuncoro. Tanah di sini sudah tidak sebaik dulu. Mungkin lebih baik mencoba pohon lain,” kata seorang petani tetangga yang menghampirinya sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Namun, Pak Kuncoro Kencana tak mau menyerah begitu saja. Dalam hatinya, ada sebuah keyakinan bahwa semua kerja keras pasti akan membuahkan hasil. Ia pun melanjutkan usahanya, meski kali ini dengan hati yang sedikit lebih berat.
Mentari mulai menampakkan sinarnya dan terdengar merdu alunan lagu burung kutilang sambil menari di atas ranting pohon, Pak Kun dengan semangat bekerja merawat kebun kesayangannya, tiba-tiba datanglah Arif, seorang sarjana muda pertanian yang baru saja kembali ke desanya setelah lulus dari universitas ternama.
“Pak Kuncoro Kencana, saya dengar pohon mangga di kebun ini masih belum menghasilkan buah yang baik ya?” sapa Arif dengan sopan. Ia memandang pohon mangga yang dipenuhi buah-buah kecil yang tampak belum matang.
“Benar, Nak Arif. Pohon ini sudah berbunga dan berbuah, tapi tak ada satu pun yang bisa dijual. Semua rontok sebelum waktunya,” jawab Pak Kuncoro Kencana sambil menghela napas panjang.
Arif mengangguk pelan sambil memperhatikan setiap daun dan buah mangga itu. “Pak, kalau boleh saya berpendapat, mungkin ada yang salah dengan metode perawatan tanah dan pemilihan pupuknya. Kadang-kadang, kita terlalu fokus pada upaya menghasilkan buah besar, tetapi melupakan hal yang sakral yaitu kesehatan tanah dan ekosistem di sekitarnya,” kata Arif dengan nada hati-hati.
Mendengar hal itu, Pak Kuncoro Kencana merasa sedikit tersinggung. “Nak Arif, saya sudah bertani sejak usia muda. Selama ini saya tahu apa yang harus dilakukan. Pohon-pohon ini sudah saya rawat seperti anak sendiri,” jawab Pak Kuncoro Kencana dengan nada agak keras.
Arif tetap tenang, meskipun ia tahu kata-katanya mungkin menyinggung perasaan petani tua itu. “Saya paham, Pak Kun. Saya tidak bermaksud meremehkan pengalaman Bapak. Tapi terkadang, ilmu pertanian yang baru juga bisa membantu. Kita bisa mencoba metode yang berbeda, mungkin hasilnya akan lebih baik,” jawab Arif sambil tersenyum ramah.
