Air Mata sang Pendidik
Air Mata sang Pendidik
Oleh: Putri Simba
Pagi itu, langit cerah. Matahari bersinar hangat, langit membiru tanpa awan. Di lapangan sekolah, suara riuh sorak sorai memenuhi udara. Anak-anak berlarian, tertawa, bersorak, mendukung teman-temannya dalam lomba classmeeting.
“Cepat! Cepat!”
“Tendang bolanya, Dika! Goooool!” teriakan seorang siswa yang menyemangati temen kelas nya di lomba Clasmeeting.
Tepat di pagi itu pula para guru berkumpul di ruang guru untuk rapat bersama membahas kenaikan kelas. Tampak suasana begitu terasa panas, bukan karena panas cahaya, melainkan memanas di sudut ruangan.
“Anak yang bernama Rehan ini begitu jarang masuk di pelajaran saya, Pak. Jika masuk pun hanya dua kali dalam berapa pertemuan, sering bolos, jarang mengumpulkan tugas pula,” seru Ibu Mutiara, guru Bahasa Indonesia.
“Betul, di pelajaran saya pun jarang, sudah saya izinkan masuk kelas, tapi jarang mengumpulkan tugas, alpanya pun sudah lebih dari 10 kali di dalam semester ini,” sahut Ibu Rani, guru kimia.
Suasana terus memanas. Beberapa guru berusaha tenang dan terlihat pula di meja depan sisi kanan hanya bisa terdiam tak menjawab, tangannya gemetar sambil memegang rapor dengan matanya yang sudah basah perlahan sejak tadi.
Di daftar rapor itu tertulis beberapa nama anak muridnya yang sedang menjadi perdebatan. Rehan, Siswa yang sejak awal tahun hanya masuk berapa kali dalam sebulan.
“Pak Dermawan, itu anak-anak didikmu tuh, pokoknya bikin pusing kepala berunyeng-unyeng!” kata pak Budiono agak keras.
Pak Dermawan menunduk, lalu akhirnya bicara, pelan. “Sabar Bapak Ibu, Rehan itu mungkin harus membutuhkan perhatian lebih, didikan khusus buat dia.
