Adapun penyebab temuan kasus baru HIV karena adanya pergeseran masyarakat yang sudah mulai sadar memeriksakan dirinya. Kasus HIV terdata sampai kini belum menggambarkan kondisi yang sesungguhnya.

Disebabkan kasus HIV merupakan fenomena gunung es. Mengingat kasus yang terungkap atau muncul ke permukaan hanya bagian luarnya dan masih sangat sedikit jika dibandingkan kasus sebenarnya.

Oleh karenanya DKPPKB rutin melakukan skrining atau pengecekan kesehatan terhadap kelompok risiko tinggi. Mulai ibu hamil sampai WPS di tempat lokalisasi secara berpindah-pindah.

Namun yang masih menjadi kendala yaitu tes HIV kepada kelompok LGBT dikarenakan komunitas mereka tertutup. Pihaknya mengaku tidak bisa memonitor secara terbuka jumlah valid kaum LGBT.

“Kita mengalami kesulitan untuk masuk ke komunitas LGBT, kecuali WPS ataupun populasi lain mereka kooperatif. Tetapi kalau komunitas LGBT mereka tertutup, kita sulit untuk menjangkau,” urainya.

Baca Juga  Pelaku Pembunuhan di Desa Bikang Terancam Hukuman 15 Tahun Penjara

Edukasi kepada masyarakat kata Slamet Wahidin terus dilakukan agar populasi penderita HIV mau memeriksakan diri. Terus meningkatnya kasus ini lantaran minimnya pemahaman masyarakat tentang HIV.

Pemahaman masyarakat masih banyak yang keliru sehingga menjadi tanggung jawab semua pihak untuk meluruskannya. Masyarakat kecenderungan menghukum penderita HIV secara sosial, karena masih menganggap itu sesuatu yang tabu.

“Penderita harus mendapatkan dukungan, sehingga mereka lebih terbuka. Kita dari tim kesehatan lebih bisa masuk ke dalam populasi untuk menanggulangi kasus HIV,” pungkas Slamet Wahidin.