Petuah Eyang di Pulau Tengah Telaga Biru
Oleh: Sutiono
Di suatu pagi yang cerah, burung camar menari di desiran ombak untuk menghiasi indahnya suasana pagi di pelabuhan Kipanoya. Lambaian daun kelapa seolah-olah mengucapkan selamat berlayar kepada para pelaut ulung dalam mengarungi lautan. Di dermaga itu, terdapat sebuah perahu yang akan segera berlayar dan salah satu penumpangnya adalah Eyang Cokro Wiryo. Tujuan perlayarannya adalah menuju sebuah pulau yang bernama Pulau Tengah Telaga Biru.
Di bawah terik matahari dan hembusan angin yang sepoi-sepoi, di atas perahu, Eyang Cokro Wiryo berdiri tegak. Usianya yang telah menginjak 66 tahun tak mengurangi semangatnya. Wajahnya, dengan garis-garis kebijaksanaan, menghadap ke depan dengan sorot mata yang tajam.
Di sekelilingnya, para pemuda desa, termasuk Tunku Singalangit, Gatot, dan Karim, duduk dengan raut penuh rasa penasaran dan ingin tahu yang tinggi. Di kejauhan nun jauh di sana, pulau kecil yang berkilau itu tampak seperti berlian yang tersembunyi di tengah perairan yang biru dan jernih.
Tunku Singalangit, murid setia Eyang, menatap pulau itu dengan penuh rasa hormat dan kagum. Sementara itu, Gatot, yang sering kali terburu-buru dan keras kepala, tak bisa menyembunyikan rasa galau dan cemasnya.
“Eyang, mengapa kita harus datang ke pulau kecil ini? Apa yang akan kita dapatkan dari semua ini?” suaranya terdengar resah dan agak kesal.
“Betul yang dikatakan Gatot, Eyang! Apa manfaat bagi kita?” ujar Karim yang belum tahu tujuan sama sekali.
Eyang Cokro tersenyum kecil, sinar matanya seolah menembus waktu. “Gatot, di setiap jengkal tanah ini ada pelajaran, dan di air telaga ini ada cermin hati kita. ‘Lautku biru, pulauku hijau, salam ekonomi biru, hidupku berkelanjutan.’ Itulah motto yang harus kalian tanam dalam hati. Mengerti artinya adalah mengerti hidup yang selaras dengan alam.”
Sesampainya di pulau, mereka disambut oleh Ki Sandu Buana, kepala desa dengan rambut putih lebat yang selalu membawa rasa tenang. Namun, tak lama setelah itu, suara keras Takur, seorang pria paruh baya dengan mata menyala-nyala, memecah keheningan.
“Apa maksudmu datang ke sini, Eyang Cokro Wiryo? Pulau ini milik kami! Apakah kau bermaksud merebutnya?”
Eyang Cokro menatap Takur dengan sorot mata penuh kebijaksanaan. “Takur, pulau ini bukan tentang milik siapa, tapi tentang bagaimana kita menjaga kebiruannya dan hijau hutannya, menjaga hidup yang berkelanjutan dan dapat diwarisi untuk anak cucu kita di masa yang akan datang.”
Gatot mengepalkan tinjunya, tetapi Tunku Singalangit menahannya. “Sabar, Gatot. Eyang sedang berbicara.”
Malam hari telah tiba. Di bawah hamparan langit berbintang yang dihiasi bulan sabit serta hembusan angin pantai yang lembut dengan diiringi suara ombak yang menderu-deru, mereka berkumpul. Selepas sholat isya’, mereka semua duduk di sebuah pendopo kecil yang sangat sederhana tetapi memiliki infrastruktur yang kuat dan bernilai seni yang tinggi.
