Petuah Eyang di Pulau Tengah Telaga Biru
Eyang Cokro Wiryo mengawali ceritanya, suaranya berat namun lembut. “Pulau ini pernah menjadi saksi betapa kerasnya kami berjuang melindungi desa dari ancaman para penjahat yang mau merampok dan menguasai pulau ini. Kami tak hanya berperang dengan kekuatan, tapi juga dengan kebijaksanaan. Laut yang biru ini telah memberi kita kehidupan, dan hidup berkelanjutan hanya bisa dicapai jika kita menjaga keseimbangan dari kehidupan sosial, ekonomi, dan ekologi serta kelestariannya.”
Jarot, seorang pemuda yang sering iri dengan Tunku Singalangit, mencibir dari sudut kerumunan. “Eyang, apa gunanya semua ini? Apa artinya menjaga laut jika dunia ini tetap kacau seperti saat ini?”
Tunku Singalangit berdiri, membalas Jarot dengan suara penuh keyakinan. “Jarot, jika kamu tak bisa menjaga dirimu, bagaimana kamu akan menjaga pulau tersayang kita ini? Eyang mengajarkan kita bukan hanya tentang pulau ini, tetapi tentang diri kita sendiri.”
Takur tersenyum sinis, merasa menang atas perpecahan yang mulai terjadi di antara mereka. Namun, Imam, yang bijaksana dan selalu menenangkan, berdiri dan berkata, “Hidup yang berkelanjutan bukan hanya tentang menjaga apa yang terlihat, tapi juga menjaga apa yang ada di dalam hati.”
Di puncak ketegangan, angin malam bertiup kencang dan deru ombak di bibir pantai semakin terdengar, membawa aroma laut yang segar. Kakek Dirgolangit, sahabat lama Eyang yang tiba-tiba muncul dari kegelapan, berbicara, “Dulu, kita berjuang bukan hanya untuk tanah dan air, tetapi juga untuk masa depan generasi berikutnya. Lautku biru, pulauku hijau, salam ekonomi biru, hidupku berkelanjutan. Itu adalah sumpah kita, dan itu harus menjadi sumpah kalian juga.”
Suasana tegang berubah hening. Gatot, yang biasanya keras kepala, merasa malu. “Eyang, aku terlalu sibuk dengan amarahku. Apa yang bisa aku lakukan untuk menjadi bagian dari semua ini?”
Eyang Cokro mendekat, menepuk bahu Gatot dengan lembut. “Mulailah dengan menjaga dan menata hatimu tetap tenang, seperti air telaga ini yang jernih, tenang, sejuk dan memberi kesegaran bagi siapa yang meminumnya. Hanya saat hatimu tenang, kamu bisa melihat dirimu yang sebenarnya.”
Jarot, yang tadinya sinis, menundukkan kepalanya, merasakan penyesalan merayap di hatinya. “Maafkan aku, Eyang. Mungkin aku terlalu lama membiarkan riak amarah dalam hatiku.”
Saat fajar menyingsing, Eyang Cokro berdiri di tepi telaga, menatap matahari yang terbit di cakrawala. Cahaya pagi memantul di permukaan air yang tenang, dan nyanyian burung-burung sambil menari di atas pohon serta tetesan embun pagi berjatuhan dalam menyambut pagi, membawa harapan baru.
“Ingatlah, generasi muda dan penerus generasi tua. Laut ini adalah kehidupan kita. Jagalah kebiruan dan ketenangannya, maka hidup kalian akan berkelanjutan dan dapat memenuhi kebutuhan kita semua.”
Tunku Singalangit, Gatot, Jarot, dan semua yang hadir dalam pertemuan itu, menyadari pelajaran yang sangat berharga. Di antara desiran angin pagi dan riak kecil di telaga dan di bawah pendopo yang diselimuti kanopi pepohonan, mereka mengulang bersama dalam hati, “Lautku biru, pulauku hijau, salam ekonomi biru, hidupku berkelanjutan.”
Dengan semangat yang baru, mereka meninggalkan pulau kesayangan mereka, membawa petuah Eyang Cokro Wiryo sebagai bekal dalam menjalani hidup yang baru dan bermakna serta bermanfaat bagi masyarakat.
Penulis merupakan Kepala SMKN 1 Tukak Sadai, Kabupaten Bangka Selatan.
