Mimpiku Jadi Nyata
“Pak, ini Putri, pelajar SMAN 1 Simpang Rimba, yang dari dulu ceritanya sangat ingin sekali bertemu Bapak,” kata Pak Tri kepada sang idolaku itu.
” Iya, Pak, aku memang dari dulu sangat ingin sekali bertemu bapak dan alhamdulilah hari ini bisa dipertemukan, rasanya seneng sekali,” ucapku kepada bapak Gol A Gong di meja makan itu.
“Katanya pengen banget ketemu Pak Gol A Gong, Put, sekarang ayo duduklah di samping beliau, berbincanglah sepuasnya,” kata Pak Tri kepadaku lagi sambil tersenyum.
Aku takbisa berkata lagi, bagaimana bahagianya perasaan ini dengan penuh tatapan agak sedikit malu aku duduk di samping beliau dengan bangga dan rasa syukur, tak percaya apakah ini mimpi atau tidak. Namun, ternyata ini adalah nyata tidak halusinasi.
“Kamu kelas berapa sekarang?” tanya bapak Gol A Gong kepadaku.
“Kelas XII, Pak, aku siswa dari Smansa Simba,” jawabku singkat kepada beliau.
Di tengah-tengah percapakan, pesanan makanan pun telah datang, aku bersama sang idolaku, juga Pak Tri, menyantap hidangan dengan penuh kenikmatan yang sangat menggoda rasanya apalagi ditemani secangkir minuman es jeruk segar.
“Alhamdulillah,” gumamku dalam hati setelah usai makan gado-gado lezat buatan orang Koba.
Semuanya telah makan, kemudian dilanjutkan kembali bincang santai sekitar kurang lebih 20 menit dengan penuh tawa canda bersama,semuanya terlihat sangat bahagia termasuk aku sendiri yang begitu bahagia karena impian ini bisa terwujud menjadi kenyataan. Usai berbincang santai, kami melanjutkan kembali perjalanan menuju kota Toboali.
Mobil mulai dijalankan, di perjalanan aku terus saja berbicara tanpa hentinya kepada Pak Tri, juga Bapak Gol A Gong, hingga masanya karena lelah sang idola tak bisa berbicara dengan lama karena harus istirahat mempersiapkan kembali pertemuan malam hari bersama penulis hebat Bangka Selatan.
“Diam ya, guys, Bapak lagi tidur karena kasihan beliau terlalu lelah,” kata Pak Guru asal pongok yang duduk dihadapan pak Tri itu
“Baiklah, Pak,” jawabku singkat.
Aku bersama Pak Guru terdiam tanpa suara sejenak, lalu lanjut bicara kembali secara pelan-pelan agar tidak menggangu waktu istirahat sang idola, hingga tanpa terasa kurang lebih 2 jam lebih perjalanan. Kini aku telah sampai di Toboali, lalu langsung mengantarkan Pak Gol A Gong ke penginapannya di Hotel Marina Toboali. Usai mengantarkan sang idola, aku lanjut lagi ikut Pak Sopir mengantarkan Pak Guru lepar, lanjut mengantarkan aku depan KUA Basel karena sudah ada jemputan dari sang Kakak Wartawan.
” Owh, Bapak toh ternyata, kirain siapa,” kata Kakak Wartawan muda, cantik yang bernama Julita kepada Bapak Tri
” Titip adik kami ini ya, jaga dia baik-baik, jangan sampai lecet sedikit pun,” ucap Pak Tri kepada Kakak Wartawan itu.
” Siap!” sahut Kakak Julita, wartawan yang menjemputku itu.
Pak Tri menuju rumahnya, sedangkan aku melanjutkan perjalanan dibonceng menggunakan motor cantik persis seperti orangnya yang cantik jelita saleha tentunya idaman semua orang. Ketika sampai di rumah, aku langsung bersiap mandi lalu lanjut kembali untuk kumpul bersama bincang santai di Galadox Toboali, pukul 20.00 WIB. Selesainya mandi dan bersiap kakak wartawan yang bernama Julita memperlakukan diriku bagaikan ratu yang mana disitu pula aku merasakan sosok kasih sayang seorang kakak yang selama ini begitu aku rindukan.
“Nah, masyaallah cantiknya,” kata Kakak Wartawan itu yang biasa dipanggil Jo.
Diambilnya ponsel lalu dibukanya kamera dan cekrek, cekrek, aku berfoto bersama dengan kedua kakak cantik itu.
“Ayok, sekarang kita ke galadox,” kata Kakak Julita mengajak pergi.
” Siap, Kak,” jawabku singkat.
Dilangkahkan kaki bersama menuju motor lalu digasnya capcus berangkat bersama sambil menikmati udara segar malam hari ditemani pula bintang yang begitu indah, hingga tak terasa aku bersama kedua kakak wartawanku telah sampai di tempat tujuan. Aku duduk anteng sambil berfoto bersama. Namun, di sela-sela foto ada seorang ibu yang ikut duduk di depanku dan ternyata ia adalah salah satu tamu undangan penting di bincang santai malam itu.
“Owh ternyata kamu toh yang tadi makan bersama bapak Gol A Gong, ibu kira pejabat ternyata pelajar,” kata Ibu yang duduk di hadapanku yang belum aku kenali namanya.
“Iya, Bu, aku pelajar dari SMAN 1 Simpang Rimba,” sahutku singkat.
Di perbincangan satu persatu tamu undangan pengurus GPMB beserta penulis hebat telah datang, aku bersama kakak wartawanku itu menyambutnya dengan penuh senyuman kehormatan bahagia. Dan ya, kini semuanya telah kumpul nyanyian musik merdu dengan gitarnya dimainkan oleh seorang bapak muda asal Toboali, ditambah lagi satu persembahan puisi guru yang dibacakan oleh kakak Jo sang wanita cantik jelita, ia membacakan bait-bait puisi itu dengan sangat merdu penuh haru hingga pada masanya Bapak Gol A Gong sedikit memberikan saran akan puisi tersebut yang penuh pemaknaan ilmu.
Usai penampilan puisi juga saran Bapak Gol A Gong lanjut memulai bincang santai, semua pegiat literasi Bangka Selatan di Bangka cave itu fokus memperhatikan bapak Gol A Gong yang lagi menjelaskan penuh keseriusan sambil ditemani secangkir kopi hitam manis. Hingga tanpa terasa rapat pun telah berjalan lancar hingga pukul setengah sebelas malam, semuanya berpamitan pulang ke tempat masing-masing, termasuk juga aku yang pulang ke penginapan di sekretariat PWI Basel bersama kedua kakakku itu. Sesampainya di penginapan, kuambil bantal lalu tidur pulas di lantai putih bersih, hingga tak terasa hari pun telah pagi aku segera bersiap untuk kegiatan selanjutnya di Perpusda Basel.
“Hmm, akhirnya sekarang siap juga,” kataku di pagi hari itu.
“Yuk, kita berangkat sekarang, Put,” ucap Kakak Jo kepadaku.
” Siap, Kak,” jawabku singkat.
Tak lupa kebiasaanku sebelum pergi aku berpamitan terlebih dahulu kepada Kakak Mika untuk meminta doa restu, barulah sehabis itu aku mulai berangkat di antar pakai motor indah milik Kakak Jo. Pagi itu, perjalanan menuju perpusda dengan pemandangan begitu indah, kuhirup dalam udara segar ini hingga pada masanya sampai sudah aku di Perpusda Basel.
“Sekarang sudah sampai Put, kalo butuh apa-apa bilang aja ya, dadah, Put,” kata Kakak Jo berpamitan kepadaku.
“Baik, Kak,” jawabku singkat.
Kulangkahkan kaki masuk ke dalam ruangan Perpusda Basel yang begitu luas di dalamnya, lalu duduk di barisan paling depan karena ingin melihat sang idola kembali memaparkan memberikan ilmunya, bangku-banggu bewarna hijau telah dipenuhi para peserta dan tamu undangan dari Toboali. Tepat pukul 08.00 WIB acara telah dimulai. berbagai rangkaian acara telah berlangsung begitu meriah penuh tawa kegembiraan bersama tanpa adanya kesedihan sekalipun itu.
“Di sini, siapa yang sudah ada buku, sekarang buat yang sudah punya buku boleh maju ke depan, kita buktikan apakah benar ucapan ketua GPMB Basel ini ataukah salah,” kata Bapak Gol A Gong kepada seluruh peserta yang hadir.
Satu persatu para penulis Basel maju ke depan membawa buku karyanya termasuk aku sendiri, Putri Rahmawati, di situ aku membawa buku karya ke-3-ku yang berjudul “Seuntas Goresan Pena”. Di depan, para penulis menjelaskan buku karyanya masing-masing hingga tiba di mana giliranku sendiri menjelaskan karyaku dengan sedikit agak malu, tetapi mempunyai perasaan yang begitu bangga bisa memperkenalkan karya di depan banyak orang.
“Buku tentang apa karyamu itu?” tanya bapak Gol A Gong kepadaku.
“Seuntas Goresan Pena, Pak,” sahutku singkat gemeter memegang mick.
” Buku apa itu?” tanya Bapak Gol A Gong kepadaku.
“Kumpulan cerpen, Pak,” sahutku singkat.
“Ini buku gabungan atau sendiri.” Tanya lagi bapak Gol A Gong.
“Ini aku sendiri yang nulisnya, Pak, ini kumpulan cerpen yang aku tulis dari kelas X, XI, dan XII, Pak,” sahutku sambil menjelaskan segalanya.
Kuserahkan buku itu kepada sang idolaku lalu kembali ia berkata di hapan banyak orang,
“Ada berapa halaman ini dan kamu menulisnya pakai apa, bolehkah jelaskan cerita apa yang kamu ingat didalam buku ini?” Tanya bapak Gol A Gong kembali.
” 479 halaman, Pak yang terdiri dari 50 cerpen, Pak, ini aku tulis menggunakan handphone, karena aku tidak ada laptop dan cerita yang paling aku inget tentang awal mulai aku menulis, Pak,” jelasku sedikit singkat, lalu kembali kujelaskan lagi akan cerita menulis itu penuh detail.
“Pengen banget punya leptob?” tanya Bapak Gol A Gong kepadaku.
“Pengen banget, Pak,” sahutku penuh semangat.
Di saat Bapak Gol A Gong berkata akan laptop, semua orang terkejut sambil sedikit tertawa karena melihat tingkah aku yang begitu pemalu. Aneh, usai aku menjelaskan tentang karyaku, kuberi kembali mikrofon kepada para penulis lainya. bergantian, Mereka menjelaskan bukunya satu per satu penuh ketelitian hingga masanya selesai pengenalan buku bapak Gol A Gong kembali membagikan ilmunya akan dunia kepenulisan ada banyak sekali para penanya dari berbagai siswa dan guru hingga Bapak Gol A Gong menjelaskannya penuh detail.
Tak terasa waktu begitu cepat acara pun telah selesai ditutup dengan sesi foto bersama termasuk aku yang selalu ingin terus berfoto tanpa hentinya bersama sang idola, lalu menjadikan kegiatan itu sebagai momen yang tak terlupakan untuk selamanya.
Tamat
Simpang Rimba, 3 November 2024
