Owh… Ini bukan tempat yang aman, sepertinya, tangannya kembali menyentuh sesuatu bau amis darah, di bawah lampu emang ruangan ini. Afta bisa melihat di balik genggaman tangannya bola mata manusia.

Dilempar dengan keras bola mata itu ke arah dinding. Nafas Afta memburu, niat mencari senjata canggih malah mendapatkan potongan tubuh kaumnya.

Suara langkah kaki mulai terdengar mendekat. Afta akui dia pecundang, takut kepada seorang wanita. Namun dari aura dan keadaan saat ini Afta bisa menyimpulkan “Dia bukan wanita sembarangan. Pembunuh, psikopat gila!”.

“Haduh….apa kamu salah satu dari sekian pengunjung yang datang mencari benda berharga di sini? Kenapa bersembunyi, ayo tunjukkan aku bahkan sudah mengetahui keberadaanmu. Kenapa harus membuat ku letih dengan bermain petak umpet begini? Kekanak-kanakan sekali.”

Baca Juga  Untuk yang Ingin Mengingat

Suara perempuan itu terdengar, 3 meter jauhnya dari posisinya saat ini.

“Aku tebak. Kamu, pria….? Kalo iya, bis bantu aku memotong daging. Aku mulai lelah, sebentar lagi matahari menampakkan diri. Sedangkan pekerjaanku belum selesai.” Gila, bisa-bisanya dia mengajak Afta berbicara di saat begini.
“Tau begini mana mau aku datang kesini.”
“Baiklah. 1…. 2…. 3…”
Kreak.. Darah…..dan… kepala manusia. Mata melotot dengan wajah hancur lebur. Menyeramkan.

Gelap gulita, lampu di ruangan itu padam. Kesempatan emas untuk Afta Kabur. Dengan langkah pelan, Afta mulai berjalan keluar melewati tangga penghubung. Berusaha agar wanita itu tidak mendengar suara dari pergerakannya.
Duk….
Aaaaaak… Srek.
Duk..
Bruk..
Suara benturan, teriakan nyaring dengan patahan tulang terdengar mengudara mengisi penuh ruangan yang diisi dua orang itu.

Baca Juga  Bertemu untuk Berpisah

Darah mulai menetes. Afta masih sadar, walupun wajahnya mulai penuh dengan cairan merah pekat itu. Saat kakinya mulai ditancap belati kecil dengan jarum besar yang menghiasi jeans biru yang dikenakan Afta.

Ini mimpi terburuk. Kehilangan kaki, sambil menahan sakit yang luar biasa. Afta memejamkan mata.

Wanita itu melepas topeng menyeramkan yang di keponakannya. Menunjukkan lekuk wajah tegas, cantik namun menyeramkan. Aura kegelapan terasa nyata.
Srek…
Dengan senyuman manis wanita itu merobek tangan Afta. Dan…

Akh…

Mama…

“Afta mimpi buruk. Afta gak mau main itu lagi, Ma,” teriak Afta yang masih terbaring di tempat tidurnya.

Penulis adalah siswa SMAN 1 Payung, Bangka Selatan.

Baca Juga  Berdebar dalam Debur