Pertemuan Terakhir
Dia terlalu sering mengabaikan perhatian Dinda, bahkan belum sempat mengucapkan terima kasih atau minta maaf atas semua sikap buruknya selama ini. Sementara itu, Bapak Kepala Sekolahnya, Pak Wisnu, berusaha menenangkan Yusuf yang bersedih lalu memeluknya erat agar tidak larut dalam kesedihan. Pak Wisnu mengajak Yusuf masuk ke dalam ruangan untuk melihat Dinda secara dekat.
“Suf, sekarang ayo, kita masuk ke dalam ruangan,” ajak Pak Wisnu.
“Baiklah, Pak,” sahut singkat Yusuf.
Mereka berdua masuk bersama ke dalam ruangan. Di dalam ruangan itu mereka melihat keluarga Dinda sedang menunggunya.
“Yusuf, Pak Wisnu, kalian datang?” ucap Ibunda Dinda.
“Iya, kami datang, Bu. Bagaimana keadaan Dinda sekarang?” tanya Yusuf dan pak Wisnu hampir berbarengan.
“Masih belum ada perkembangan, Pak, Dinda masih juga belum sadarkan diri,” ucap Ibunda Dinda.
“Ya Allah, tolong sembuhkan Dinda, ya Allah, aku mohon sembuhkanlah dia,” dia Yusuf meminta kesembuhan Dinda kepada Allah SWT.
“Pak Wisnu, Dinda ingin sekali bertemu dengan Bapak, bahkan di saat ada satu pertemuan penting tepatnya hari bahagia pencapaiannya, dia ingin sekali bertemu Bapak dan berharap Bapak bisa menyaksikan keberhasilannya. Dinda hanya bisa bersedih di keheningan malam, Pak karena ia rindu sekali pada Bapak. sekarang ayo panggillah Dinda, Pak, siapa tahu dengan mendengarkan suara Bapak dia bisa siuman, sadarkan diri Pak.” ucap sang ibundanya Dinda itu kepada Pak Wisnu.
Pak Wisnu yang mendengarkan ucapan ibundanya Dinda mulai meneteskan air matanya, lalu berkata.
“Nak Dinda, ini Bapak, Nak, ini Bapak Kepala Sekolahmu. Bapak sudah datang, Nak, sekarang ayo bukalah matamu, Nak, kami sangat merindukan senyuman indahmu,” ucap pak Wisnu.
Walaupun sudah mendengarkan suara ucapan Pak Wisnu, Dinda masih juga tak sadarkan diri, malah entah mengapa ia tiba-tiba kejang-kejang. Pak Wisnu panik melihat Dinda seperti itu, begitu pula dengan Yusuf yang semakin khawatir Dinda akan meninggalkan dirinya, dengan cepat, Ibunda Dinda segera memanggil dokter, setibanya dokter di ruangan itu, semua orang yang ada di dalam diminta untuk keluar ruangan.
“Semuanya harap keluar, ya,” ucap dokter yang memeriksa Dinda.
Tanpa berkata semua keluarga juga gurunya itu meninggalkan Dinda dan hanya bisa melihat dari kaca jendela pintu ruangan saja, Dokter terus menangani Dinda terdengar suara, tit, tit, tiiit, Dinda sudah takbisa diselamatkan lagi, dia sudah pergi ke pangkuan Sang lllahi pukul 10.30 WIB. Dokter dengan muka sedihnya memberi tahu kabar duka kepada orang yang disayangi Dinda.
“Bapak Ibu, serta semuanya, saya minta maaf sekali, putri kalian sudah pergi, dia sudah tidak bisa diselamatkan,” ucap sang dokter mengatakan kabar duka itu.
” Tidaaak, anak saya tidak mungkin meninggal! Dokter pasti berbohong kan?” sahut kedua orang tua Dinda tak terima.
“Yang sabar, ya, Bu, mungkin ini sudah jalan yang terbaik Bu, putri Ibu dan Bapak sudah tidak ada lagi,” ucap sang dokter kembali menjelaskan.
“innalillahi wa inna ilaihi roji’uun, semoga kamu tenang ya, Nak di surganya Allah SWT, maafkan bapakmu ini karena Bapak tidak bisa bertemu denganmu di kegiatan itu, bahkan bicara denganmu, Nak. Maafkan Bapak, Nak,” ucap sang Kepala Sekolahnya itu meneteskan air mata, takpercaya siswa yang ia banggakan selama ini telah pergi selamanya.
Semuanya menangisi kepergian Dinda, termasuk Yusuf, dia menyesal karena belum ada meminta maaf akan segalanya, di rumah sakit itu semuanya mengurus pemakaman Dinda,
Dinda segera dimakamkan di pemakaman di desanya. Ada banyak orang yang menghadiri pemakaman Dinda dan memberinya gelar terbaik di batu nisanya itu.
Di makamnya Dinda itu semua orang merasa seperti dunia terhenti atas kepergian Dinda untuk selamanya, takada lagi canda tawa senyuman baik di rumah maupun di sekolah orang yang seperti Dinda. Takada lagi seorang penulis yang sebaik dirinya meski kata orang masih banyak jurnalis di desanya itu.
Waktu terus berlalu begitu cepat. Setelah kepergian Dinda, sekarang semua orang sudah mulai ada senyuman setelah sekian lama terpuruk oleh duka. jikalau rindu pun hanya bisa menatap bintang-bintang yang bersinar, berharap semoga Dinda melihat semua orang tak sedih lagi dari sana.
Kisah ini bukanlah kisah nyata melainkan kisah ini hanya kisah fiksi khayalan imajinasi sang penulis yang dituangkan dalam bentuk tulisan cerpen sederhana.
Cerita ini bukanlah pula untuk menyindir seseorang melainkan hanyalah mengungkapkan imajinasi sang penulis tentang sosok seorang Dinda yang begitu galak, disiplin baik hati tentunya seorang penyabar dalam menghadapi hidupnya juga hanya tersenyum bahagia menutupi rasa sakit penyakit dalamnya dengan cara tersenyum agar orang yang berada di dekatnya tidak cemas menghawatirkan dirinya.
Semoga cerita fiksi ini bermanfaat bagi pembaca dan ingatlah pula kata bapak Kepala Cabdin (Dr. H. Wahyudi Himawan, S.Si., M.T) menulislah di atas pasir dan menulislah di atas batu, menulis di atas batu itu susah dan menulis di atas pasir itu mudah.
Menulis di atas pasir artinya kite pemaaf,…karena air laut dan angin akan menghapus tulisan itu.
Menulis atau memahat di atas batu adalah tulisan kebaikan agar dikenang sepanjang hayat begitulah kata bapak kepala cabdin kita yang sangat memotivasi kita untuk terus bersemangat menulis meski tulisan itu sederhana
Simpang Rimba, 16 November 2024
