Yang amat menarik, tulisan dalam buku ini ditulis oleh generasi yang berbeda-beda dan dari berbagai media yang ada di Bangka Belitung dengan tema yang beragam pula.

Yang amat mengesankan, penghormatan para penulis dalam buku ini kepada para generasi pelahir Persatuan Wartawan Indonesia Bangka Belitung patut diacungi jempol. Kita memang jangan pernah melupakan sejarah.

Sosok dan figur mareka yang dulu menjadi panutan, teladan, mengayomi saat penulis masih aktif di media Suara Bangka hingga Bangka Express mengingat kembali rekam jejak mereka sebagai wartawan di Bangka Belitung. Sebagai pewarta di negeri Serumpun Sebalai.

Ada Bang Hermansyah Bermani. Ada Pak Amin Sulton. Ada Bang Husin, Bang Farhan, ada Pak Yahya. Al Fatihah untuk para pendekar pena dari Bangka Belitung itu. Tak terlupakan tentunya Bang Eddy Jajang Atmaja yang kini mengabdi di Universitas Bangka Belitung.

Baca Juga  Di Warung Budhe, Literasi Tak Pernah Mati

Banyak pengetahuan yang penulis dapatkan saat berinteraksi dengan mereka, para guru pena itu. Biasanya bertemu dengan mereka di ruang Humas PT. Timah.

“Mengeja Laut”, seolah membaca kisah tentang perjalanan dunia kewartawanan di Bangka Belitung.

Dan penulis jadi ingat masa bulan madu dunia kewartawanan itu. Sebuah profesi yang mulia.

Mengutip narasi legenda Pers Nasional Rosihan Anwar (Alm) fungsi dan tugas wartawan adalah membantu masyarakat dari ketidakadilan dan kezoliman.

Penulis merupakan mantan wartawan dan Ketua GPMB Bangka Selatan.

Toboali, Senin sore 18 November 2024