Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat akan gaya hidup sehat, produk aren seperti gula aren semakin diminati sebagai alternatif pemanis alami. Gula aren mengandung indeks glikemik rendah dibandingkan gula pasir, sehingga cocok untuk konsumen yang peduli kesehatan, terutama bagi penderita diabetes dan mereka yang menerapkan diet rendah gula. Produk aren lainnya, seperti cuka aren dan nira, juga memiliki khasiat kesehatan dan dapat dipasarkan sebagai produk kesehatan alami.

Selain gula aren, diversifikasi produk berbasis aren perlu dikembangkan, seperti sirup aren, teh nira, dan kosmetik berbahan dasar ijuk. Produk turunan ini memiliki nilai tambah yang lebih tinggi dan dapat meningkatkan daya saing di pasar. Kemasan yang menarik dan promosi sebagai produk sehat juga perlu diaplikasikan untuk menarik konsumen yang lebih luas.

Baca Juga  Timah Indonesia, 271 Vs 27000, Sebuah Refleksi Menyambut International Workers Day

Pariwisata Berbasis Ekowisata dan Agrowisata

Pengembangan perkebunan aren sebagai tujuan wisata dapat memperkaya sektor pariwisata di Bangka Belitung. Pengunjung dapat melihat atau mengikuti proses pengolahan gula aren selain mencoba langsung nira aren segar, yang memberikan pengalaman baru dan edukatif. Wisatawan juga dapat diajak untuk terlibat dalam kegiatan memanen, tentu saja dengan standar keamanan yang sudah dijaga, dan merasakan langsung kehidupan para petani aren di kampung, sehingga hal ini menambah daya tarik wisata berbasis ekowisata dan agrowisata.

Aren adalah tanaman yang dapat tumbuh di lahan-lahan marjinal dan hutan sekunder, sehingga cocok untuk kawasan yang tidak cocok untuk pertanian intensif. Selain itu, aren berkontribusi dalam konservasi tanah dan air karena akarnya mampu mencegah erosi dan mempertahankan kualitas tanah. Usaha budidaya aren secara tidak langsung membantu konservasi lingkungan, menjaga ekosistem lokal, dan mendukung keseimbangan alam.

Baca Juga  Meningkatkan Kreativitas Siswa melalui Ekstrakurikuler Pramuka di Sekolah Dasar

Saat ini, Slamet Wahyudi dan teman-temannya sedang berupaya membangkitkan semangat petani untuk kembali menekuni pohon aren dengan lebih serius. Usaha ini bahkan memperoleh dukungan dari Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Bappeda Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Salah satunya ialah melalui program matching fund Kedaireka di tahun 2023.

Ada dua desa yang telah mendapat sentuhan program ini yaitu Desa Sungkap Bangka Tengah dan Desa Tuik Kabupaten Bangka Barat. Kedaireka, Kerja Sama Dunia Usaha dan Kreasi Reka, atau Kedaulatan Indonesia dalam Reka Cipta, adalah platform yang menghubungkan perguruan tinggi dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) untuk berkolaborasi dalam mengembangkan rekacipta dan teknologi.

Baca Juga  Orang Gila dan Gali Tambang Berbuah Semangka

Segala upaya sekarang sedang dicoba oleh Slamet Wahyudi yang memilih hijrah dari Provinsi Riau, tempat kerjanya dulu, ke kampung halamannya di Bangka Belitung. Ia khawatir jika bencana kekurangan bahan baku aren terjadi di tanah kelahirannya, sehingga ia sekarang lebih getol menyampaikan berbagai hal tentang tanaman aren.

Ia tak ingin terjadi “Kiamat Aren” di Bangka Belitung, suatu kondisi di mana ketika pohon aren dan produksinya yang menjadi komoditas unggulan tetapi justru keberadaannya kelak tak banyak lagi di Bangka Belitung. Seperti yang sekarang telah mulai terjadi di beberapa desa di Pulau Bangka. Salam Takzim.

Penulis merupakan Ketua Asosiasi Tradisi Lisan dan Pemerhati Budaya Bangka Belitung.