Mendengar itu seketika tawaku dan Bedo pecah kembali, “hahaha, ada ada saja kamu Dik, kan sudah dibilang dari tadi, nenek sihir mah ga ada,” kata Bedo, “Eh Ali, kamu bilang bangunan itu peninggalan Belanda?” lanjut Bedo. Kubalas dengan anggukan.

“Berarti itu tempat bersejarah dong ya?” ucap Bedo. Kubalas anggukan lagi, “terus kenapa tidak dirawat dan dilestarikan?” tanyanya lagi.

“Kata ayah, kurangnya kepedulian terhadap situs sejarah Do, ayah juga sudah membicarakannya pada aparat setempat. Kita hanya perlu menunggu saja,” ucapku.

“Kalau begitu kenapa harus nunggu? kenapa tidak kita saja yang melestarikannya?” ucap Dika tiba-tiba menginterupsi.

“Memangnya apa yang bisa dilakukan anak kecil seperti kita?” kata Bedo. Mendengar itu seketika sunyi menyapa di antara kami bertiga. Di tengah pergulatan pikiran, seseorang pria paruh baya melintas di hadapan kami, lalu menyapa sekilas.

“Hey, sudah mau Maghrib, pulanglah nanti dicariin.”

Mendengar suara itu, kami lantas saling bertatapan, seolah punya pikiran yang sama.

“Datuk Rangga!” Seru kami serempak.

Baca Juga  Emir Melarikan Diri

***

Dan di sinilah kami berada. Di rumah seorang tokoh adat di Toboali, Datuk rangga. Sepulang sekolah tadi, aku, Bedo, dan Dika langsung bergegas kesini.

“Memang benar, dulu Benteng Toboali merupakan peninggalan Belanda, lalu jatuh ke tangan Jepang. Sempat pula di tahun 1980-an dipergunakan untuk kepolisian Distrik Toboali. Namun, setelah pindah sekitar 50 meter ke tanah di depannya, Benteng Toboali mulai ditinggalkan dan tidak terurus,” jelas Datuk Rangga panjang lebar.

“Lalu bagaimana tuk? Masa mau ditinggalkan dan dibiarkan begitu saja?” tanyaku.

“Untuk itu, saya dan warga juga akan menyampaikan lagi ke pemerintah, untuk menindaklanjuti permasalahan ini, semoga disegerakan yah,” Kata Datuk Rangga.

***

Toboali, 2008. Suara gesekan pena yang beradu dengan kertas memenuhi ruangan itu. Sunyi yang dihasilkan menciptakan ketegangan tersendiri. Suara ketukan sepatu pengawas seolah menjadi ritme mematikan. “Waktunya tinggal 5 menit lagi,” suara pengawas wanita itu menginterupsi. Napas ku tertahan sejenak. Sial, soal matematika memang mematikan. Ujian Nasional Sekolah Menengah Atas yang ku laksanakan. Padahal aku sudah belajar semalaman, tapi soal ini memang di luar perkiraan.

Baca Juga  Pelukis Sunyi di Kanvas Hati

Suara bel berbunyi, menandakan waktu pengerjaan soal ujian telah habis. Untungnya aku berhasil menjawab semua soal.

“Ali, gimana tadi ujiannya?” tanya Bedo menghampiri.

“Pusing Do, untung kejawab semua,” kataku.

“Lah masih mending kamu, aku sepertinya ada 5 soal yang belum ku jawab,” Bedo lesu.

“Ali, Bedo!” dari ujung koridor sekolah terlihat Dika berlari mengarah ke kami.

“Kenapa Dik?” tanyaku. Melihat Dika yang bercucuran keringat dengan napas terengah-engah, “Soal ujianmu ada yang ga kejawab juga?” tanyaku lagi. Dibalas gelengan oleh Dika. “Lalu, dompetmu hilang?” tanyaku lagi. Masih dibalas gelengan kepala oleh Dika.

“Oh, apa jangan-jangan kertas ujian mu disita pengawas karena ketahuan mencontek ya!” tuding Bedo. Seketika mata Dika melotot.

“Yang benar aja, enggak lah!” serunya.

“Terus apa dong?” tanyaku dan Bedo serempak.

“Itu, Benteng Toboali,” kata Dika masih mencoba mengatur napasnya.

“Ada apa dengan Benteng Toboali?” tanya Bedo.

Baca Juga  Di antara Ruang dan Waktu

“Benteng Toboali akan mendapat tindakan pemeliharaan dan pelestarian oleh pemerintah,” kata Dika dengan senyuman merekah.

***

Perihal akar pohon yang memeluk erat dinding tua itu. Perihal pondasi yang mulai lebur bersama tanah. Perihal bangunan yang beratap langit biru. Perihal waktu, serta sejarah di dalamnya.

Toboali, 2024. Aku berdiri di sini. Di hadapan puluhan anak sekolah dengan seragam merah putih. Buku tulis mereka pangku demi mencatat informasi yang kusampaikan. Berlatar bangunan tua. Bagian sejarah Toboali.

“Pak jadi Benteng Toboali didirikan tahun berapa?” tanya seorang murid kepadaku.

“Ih Dis, kok kamu nanya terus sih! Kan dari tadi udah dibilang sama pemandunya kalo Benteng ini didirikan pada tahun 1825,” gerutu seorang gadis kecil disampingnya.

“Ya maaf, tadi ga kedengeran soalnya, hehe.”

“Tidak apa-apa kok, kalau ada yang belum paham silahkan bertanya ya. Dengan senang hati akan saya jawab, karena ini bagian dari sejarah yang memang sepatutnya dilestarikan.”

Selesai.

Penulis merupakan siswi SMAN 1 Toboali, Bangka Selatan.