Hadiah yang Kembali
“April, mengapa kamu tega kepadaku, apa salahku kepadamu, padahal aku sudah menganggapmu seperti keluarga sendiri, tetapi mengapa kamu tega kepadaku. Mengapa april?” tangis Dinda pecah di ruangan itu. Dia syok berat mengetahuinya sambil memegangi baju temannya itu.
“Maafkan aku Din, maafkan aku, sebenarnya aku tidak bermaksud untuk mengambilnya, aku hanya iseng saja, Din. Aku iri, kamu mendapatkan segalanya, tetapi diriku tidak, Din. Jadi maafkan aku, Din.” April bersujud di bawah kaki Dinda, meminta maaf yang sebesar -besarnya.
“Aku masih tak percaya kepadamu Pril, mengapa kamu sangat tega kepadaku, kamu menyembunyikan ini selama setahun lebih, kamu tahu ‘kan, kalau ini adalah hadiah pemberian sekolah, ini merupakan perjuangan kerja kerasku selama setahun, Pril, kenapa kamu tega, tega membuatku hancur down!” tangis Dinda yang belum bisa memaafkan kesalah April.
April terus saja bersujud di kaki Dinda meminta maaf, tetapi Dinda tetap takingin menatap wajahnya, bahkan jijik berada di sampingnya, Pak Dermawan yang menyaksikan itu mencoba menenangkan Dinda kembali agar dia bisa memaafkan kesalahan teman dekatnya itu.
“Dinda, maafkanlah kesalahan temanmu ini, Nak, kamu tahu ‘kan kalau dendam itu tidak baik. Jadi, sekarang mari maafkanlah kesalahannya, Nak, sekarang ‘kan barangmu sudah kembali ke tanganmu lagi, ayolah, Nak, maafkan, ya, Bapak tahu pasti kamu sakit hati dan begitu kecewa. Dendam itu tidak baik, Nak,” ucap Pak Dermawan yang mencoba menenangkan juga membujuk Dinda.
“Tolong, Pak, jangan sekarang, aku masih harus butuh waktu, dan sekarang aku mau sendiri tidak ingin diganggu,” sahut Dinda kepada Pak Dermawan.
Dinda segera mengambil barangnya itu dari tangan temannya, lalu segera pergi ke tempat yang sepi, entah ke mana. Pak Dermawan dan April mencoba menghentikan kepergian Dinda, tetapi nyatanya tidak berpengaruh. Dinda terus saja berlari ke tempat yang sepi hingga ditempat sunyi itu Dinda termenung.
“Ya Allah, mengapa temanku sendiri yang merenggut kebahagiaan ku, mengapa ya Allah, sejujurnya aku bahagia karena barangku kembali,vtetapi kenapa harus begini?” gumam Dinda berteriak tak kuasa di tempat sunyi itu.
Lalu di kesunyian itu bayang-bayang seseorang datang menghampiri Dinda, ternyata itu adalah almarhum ibunya.
“Anakku, kemarilah Nak, peluklah ibumu ini,” busik bayangan putih itu kepada Dinda.
Dinda menemui wanita berjubah putih itu, ia duduk terbaring di pangkuan hangatnya, menceritakan segala kejadian. Bayngan ibundanya yang mendengarkan Dinda, putrinya itu hanya bisa berkata untuk putrinya itu tidak bersedih dan ingin memaafkan kesalahan serta kekhilafan temannya itu.
“Nak, ampunilah kesalahan dirinya, bukankah dia teman baikmu?” Nasihat bayangan menyerupai ibundanya Dinda itu lagi.
“Baiklah Bu, tetapi aku masih harus butuh waktu,” sahut singkat Dinda.
Waktu terus berjalan dengan cepat kurang lebih seminggu Dinda bersedih tak menatap temannya itu. Kini Dinda telah memaafkan kesahan April yang ucapan terus berterima kasih.
“Dinda, benarkah dirimu memaafkan kesalahanku? Terima kasih, Din, terimakasih,” ucap April.
“Iya, Pril, aku sudah memaafkan segalanya,tetapi kamu janji ya, tidak mengulanginya lagi!” kata Dinda membuat janji.
“Iya, janji,” sahut April singkat.
Setelah saling berjanji, Dinda dan April akhirnya baikan, mereka saling berpelukan satu sama lain lalu bergendengan tangan menghampiri sang wali kelasnya itu memberikan kabar bahagia bahwa mereka telah akur kembali. Pak Dermawan yang mendengarkan itu tersenyum bahagia, lega, karena semua masalah sudah selesai dan kini ia juga telah melihat siswanya Dinda kembali ceria.
Cerita ini bukanlah kisah nyata melainkan hanyalah kisah fiksi,dikisah ini mengajarkan bahwanya kita tidak boleh iri ataupun dengki kepada seseorang,dan janganlah engkau pula mencoba mengambil barang yang bukan milik dirikita sendiri karena itu adalah perbuatan yang salah,semoga cerita ini menginspirasi ya, terima kasih sudah membacanya, salam gelis Simba
Simpang Rimba 30 November 2024.
